19 Agustus, 2013

Presbytis comata


Surili (Presbytis comata)


 Nama Inggris : Javan Surili, Javan Grizzled Langur, Java Leaf Monkey, Grizzled Leaf Monkey
 Synonim : Presbytis fredericae (Sody, 1930)

Morfologi
Pada umumnya warna bagian punggung (dorsal) tubuh surili dewasa berwarna hitam atau coklat tua keabuan. Pada bagian kepala sampai jambul berwarna hitam. Tubuh bagian depan (ventral) mulai dari bawah dagu, dada, perut, bagian dalam lengan, kaki dan ekor berwarna putih. Warna kulit muka dan telinga hitam pekat agak kemerahan, warna iris mata coklat gelap dan warna bibirkemerahan. Pada individu yang baru lahir, tubuhnya berwarna putih keperak-perakan dengan garis hitam mulai dari kepala hingga ekor. Panjang tubuh individu jantan dan betina hampir sama yaitu berkisar antara 430-600 mm. Panjangekor berkisar antara 560-720 mm. Berat tubuh rata-rata 6,5 kg.
Penyebaran
Surili (Presbytis comata) hanya terdapat di Jawa Barat, terutama di kawasan hutan yang yang tergolong kawasan konservasi (Taman Nasional, Cagar Alam) dan hutan lindung. Surili tersebar mulai dari hutan pantai sampai hutan pegunungan mulai dari 0-2000 meter diatas permukaan laut.
Habitat
Surili hidup di kawasan hutan hujan tropis primer maupun sekunder mulai dari hutan pantai (ketinggian 0 meter) sampai hutan pegunungan (ketinggian sampai 2000 meter diatas permukaan laut). Seringkali juga surili dijumpai di perbatasan antara hutan dengan kebun penduduk.
Makanan
Surili termasuk jenis primata yang banyak mengkonsumsi daun muda atau kuncup daun sebagai makanannya. Bila dilihat komposisi makanan yang dikonsumsi surili, 64% dari makanannya adalah daun muda, 14% buah dan biji, 7% bunga dan sisanya berupa serangga, jamur dan tanah. Di samping itu jenis tumbuhan yang menjadi makanan surili juga sangat beragam. Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa surili mengkonsumsi lebih dari 75 jenis tumbuhan yang berbeda.
Perilaku Sosial
Surili hidup berkelompok dengan ukuran antara 7-12 individu. Setiap kelompok biasanya terdiri atas satu ekor jantan dengan satu atau lebih betina (one male multi female troop).
Aktivitas Harian
Surili aktif di siang hari (diurnal) dan lebih banyak melakukan aktivitasnya pada bagian atas dan tengah dari tajuk pohon (arboreal). Kadang-kadang jenis primata ini juga turun ke dasar hutan untuk memakan tanah. Pada saat anggotanya turun ke lantai hutan, pimpinan kelompok akan terlihat mengawasi dengan waspada. Pada malam hari kelompok surili tidur saling berdekatan pada ketinggian sekitar 20 m di atas permukaan tanah. Surili jarang menggunakan pohon sebagai tempat tidur yang sama dengan hari sebelumnya.
Status Konservasi
Surili merupakan satwa yang hanya terdapat (endemik) di Jawa Barat dan Banten. Satwa ini dilindungi oleh perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yaitu berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 247/Kpts/Um/1979 tanggal 5 April 1979, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tanggal 10 Juni 1991 dan Undang-undang No. 5 Tahun 1990. Penyusutan habitat merupakan ancaman terbesar bagi populasi Surili. Saat ini jenis primata ini hanya dapat dijumpai di kawasan lindung dan konservasi dengan jumlah yang tersisa berkisar antara 4.000-6.000 ekor.
Dasar Pengajuan Surili Menjadi Satwa Simbol Jawa Barat
Beberapa alasan yang mendasari pengusulan Surili menjadi fauna identitas Jawa Barat adalah sebagai berikut: 
  1. Surili merupakan satwa yang hanya terdapat di Jawa Barat dan Banten. Dengan demikan satwa ini merupakan satwa yang khas dan tidak dapat dijumpai di daerah lain. 
  2. Surili merupakan dikatagorikan sebagai jenis primata pemakan daun yang harus mendapatkan prioritas untuk dilestarikan. Hal ini menjadikan perhatian dunia internasional, khususnya badan-badan yang berkaitan dengan konservasi hidupan liar banyak tertuju kepada jenis ini. Tingginya perhatian dunia akan jenis primata ini dapat dijadikan sebagai daya tarik untuk mempromosikan provinsi Jawa Barat di dunia internasional. 
  3. Surili sangat tergantung dengan keberadaan hutan sebagai tempat hidupnya, sehingga melestarikan satwa ini mutlak harus disertai dengan pelestarian hutan di Jawa Barat. Hal ini akan mendorong pemerintah provinsi Jawa Barat untuk melaksanakan kebijakan yang memperhatikan kelestarian lingkungan khususnya kawasan hutan yang saat ini sudah sangat memprihatinkan. 
  4. Surili merupakan satwa yang sudah cukup di kenal sebagai kerabat dekat lutung sehingga sudah menyatu dengan legenda Lutung Kasarung yang dikenal luas di Jawa Barat. 
  5. Surili merupakan jenis satwa primata yang kekerabatannya dekat dengan manusia. Dalam kehidupannya satwa mempunyai insting untuk melakukan pengobatan sendiri (self medication) lewat makanan yang dikonsumsinya di hutan. Banyak makanan dari jenis-jenis primata yang ternyata mengandung zat aktif yang dapat berfungsi sebagai obat bagi jenis-jenis penyakit yang juga menjangkiti manusia. 
  6. Surili merupakan satwa yang memakan buah-buahan dan biji-bijian serta serangga. Dengan memakan buah dan biji satwa ini dapat membantu dalam menyebarkan biji tumbuhan di kawasan hutan yang kemudian akan tumbuh menjadi anakan pohon baru. Dengan demikian surili berperan juga dalam memelihara kelestarian hutan. Dengan memakan serangga seperti belalang, dll.

Sumber Referensi :

selengkapnya >>

15 Agustus, 2013

Hieraaetus kienerii

ELANG PERUT KARAT Hieraaetus kienerii Geoggroy Saint Hilaire, 1835
Rufous-bellied Eagle
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk memperbesar"
Jawa
Jawa
Jawa



Kalimantan
Kalimantan
Kalimantan









Deskripsi: Berukuran agak kecil (50 cm), berwarna coklat kemerahan, hitam, dan putih, dengan jambul pendek. Dewasa: mahkota, pipi dan tubuh bagian bawah kehitaman; ekor coklat dengan garis hitam tebal dan ujung putih.   Dagu, tenggorokan, dan dadanya putih, bercoret-coret hitam; sisi tubuh, perut, paha, dan bagian bawah ekor coklat kemerahan dengan coretan hitam pada perut. Pada waktu terbang terlihat bercak bulat yang pucat pada pangkal bulu primer. Remaja: tubuh bagian atas coklat kehitaman dengan bercak kehitaman pada mata, alis keputih-putihan, dan tubuh bagian bawah keputih-putihan. Iris merah, paruh kehitaman, sera dan kaki kuning.

Suara: Pekikan tinggi “cirrep”, didahului dengan nada-nada awal yang tinggi. Juga teriakan tinggi “kliu” (M&V).

Penyebaran global: India selatan, Himalaya, Asia tenggara, Filipina, Sulawesi, dan Sunda Besar.

Penyebaran lokal dan status: Penghuni yang tidak umum pada kawasan hutan (sampai ketinggian 1.500 m) di Sunda Besar.

Pakan: Memakan burung termasuk ayam hutan dan merpati. Juga memakan mamalia anatara lain tupai.

Berbiak : Waktu berbiak Elang Perut Karat dibagian lain Asia dikatakan berbiak antara Desember - Maret (Srilanka dan India Selatan) dan February (Filipina) (Thiolay 1994; Robson 2000). Di Sumatera keberadaan burung muda bersama sarang teramati pada juli 2007 (Iqbal et al 2011). Sarang berukuran besar dibangun oleh sepasang induk di tajuk tertinggi pohon pada hutan yang lebat. Telur 1 butir yang dierami secara bergantian oleh induknya, sangat agresif dalam mempertahankan sarang ketika ada pengganggu.

Kebiasaan: Mendiami kawasan hutan dan pinggir hutan, terlihat berputar-putar atau meluncur rendah di atas pohon.

Cerita dari Lapangan: Merupakan jenis yang jarang dijumpai selama pengamatan, tercatat pernah dijumpai di kawasan perkemunan kelapa sawit, Kalimantan Tengah dan di Hutan Lindung Bukit Pembarisan Kuningan yang merupakan perbatasan antara sawah, ladang, kebun, pinus dan hutan alam. Perjumpaan pertama teramati pada 17 Oktober 2012 soaring di atas area perkebunan kelapa sawit, kalimantan tengah saat kondisi hujan gerimis. 
Perjumpaan kedua teramati pada 07 Agustus 2013 di Hutan Lindung Pembarisan aktif terbang dan bertengger mulai dari pagi hingga sore hari. Perjumpaan di HL Bukit Pembarisan awalnya dikira Accipiter sp. dari cara terbang dan suara yang dikeluarkan pada saat terbang(cirrrep-cirrrep-cirrrep-cirrrep/pii-pii-pii-pii). Individu remaja saat terbang terlihat mirip Osprey, dengan warna bagian bawah putih dan ada warna gelap pada sayap, serta bercak pada bagian pelipis dekat mata. Memiliki Kebiasaan terbang lebih sering dibanding jenis Spizaetus, dengan gaya terbang rendah diatas pohon hingga dasar diatas persawahan dan ladang, lalu soaring semakin tinggi.Jenis ini sebelumnya sudah pernah terdeteksi, namun karena peralatan yang terbatas pada waktu itu (pertengahan agustus 2012) jenis ini belum teridentifikasi. Selain kemampuan pengamat, peralatan yang memadai dianggap sangat penting untuk identifikasi jenis.

Status Perlindungan: Dilindungi Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya dan PP 7 dan 8 Tahun 1999. Appendix II CITES.

 

Sumber:  
MacKinnon, J., K. Phillipps, dan B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatra, Jawa,Bali, dan Kalimantan. LIPI/BirdLife-Indonesian Programme, Bogor
selengkapnya >>