homephoto grallerybuku tamulinktentang kamihome

27 Mei, 2013

Spilornis Cheela

Elang Ular Bido - Spilornis cheela Latham, 1790
berikut ini adalah hasil dokumentasi di lapangan
Kalimantan
Kalimantan
Kalimantan


Kalimantan
Kalimantan
Kalimantan

Jawa
Jawa
Jawa

Sumatera
Sumatera
Sumatera





Deskripsi: Berukuran sedang (50 cm), berwarna gelap. Sayap sangat lebar membulat, ekor pendek. Dewasa: tubuh bagian atas coklat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah coklat. Perut, sisi tubuh, dan lambungnya berbintik-bintik putih, terdapat garis abu-abu lebar di tengah garis-garis hitam pada ekor. Jambulnya pendek dan lebar, berwarna hitam dan putih. Ciri khasnya adalah kulit kuning tanpa bulu di antara mata dan paruh. Pada waktu terbang, terlihat garis putih lebar pada ekor dan garis putih pada pinggir belakang sayap. Ras Kalimantan berwarna lebih pucat dan coklat. Remaja: mirip dewasa, tetapi lebih coklat dan lebih banyak warna putih pada bulu. Iris kuning, paruh coklat-abu-abu, kaki kuning
Suara: Sangat ribut, melayang-layang di atas hutan, mengeluarkan suara nyaring dan lengking "kiu-liu", "kwiiikkwi", atau "ke-liik-liik" yang khas, dengan tekanan pada dua nada terakhir, dan "kokokoko" yang lembut.
Penyebaran global: India, Cina selatan, Asia tenggara, Palawan, dan Sunda Besar.
Penyebaran lokal dan status: Terdapat di seluruh Sunda Besar dan mungkin merupakan elang yang paling umum di daerah berhutan (dataran rendah) sampai pada ketinggian 1.900 m.

Berbiak: Musim Berbiak: Musim kawin di Pulau Jawa bulan Pebruari – Nopember
Sarang: relatif kecil, lebar 50-60 cm, kedalaman 10-30 cm, terdiri dari rantingranting dan pinggirannya disulam dedaunan hijau.
Jumlah Telur: Telur 1 butir (rata-rata 1-2), dengan masa pengeraman sekitar 35 hari atau lebih.

Pakan: Makanan utamanya reptilia seperti ular, juga kadal. Binatang pengerat kecil. Di kepulauan Andaman tercatat memakan kepiting dan belut.

Kebiasaan: Sering terlihat terbang melingkar di atas hutan dan perkebunan, antar pasangan sering saling memanggil. Pada saat bercumbu, pasangan memperlihatkan gerakan aerobatik yang menakjubkan walaupun biasanya tidak terlalu gesit. Sering bertengger pada dahan yang besar di hutan yang teduh sambil mengamati permukaan tanah di bawahnya.


Cerita dari Lapangan: Merupakan jenis yang umum, pernah dijumpai mulai dataran rendah + 50 mdpl hingga hutan dataran tinggi/pegununga + 2.000 mdpl. Lebih sering dijumpai bertengger di tempat yang teduh dibanding yang terang, dan sering terlihat terbang melingkar (soaring) berpasangan sambil mengeluakan suara.
Di Jawa Barat (Bukit Pembarisan/Taman Nasional Gunung Ciremai/Hutan Rakyat Kecamatan Cigugur/Gunung Mayana) hidup bersama jenis raptor lainnya dalam satu habitat dengan Spizaetus bartelsii, Spizaetus cirrhatus, Pernis ptilorhynchus, Ictinaetus malayensis, Falco moluccensis, Hireaaetus kinerii.
Di Kalimantan Tengah (Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit) hidup bersama jenis raptor lainnya dalam satu habitat dengan Spizaetus cirrhatus, Pernis ptilorhynchus, Accipiter gularis, Accipiter trivirgatus, Accipiter badius, Hieraaetus kienerii, Elanus caeruleus, Aviceda jerdoni.
Di Sumatera (Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit  dekat pantai) hidup bersama jenis raptor lainnya dalam satu habitat dengan Spizaetus cirrhatus, Elanus caeruleus.
 
Status Perlindungan: Dilindungi Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya dan PP 7 dan 8 Tahun 1999. Appendix II CITES.

Sumber:  
MacKinnon, J., K. Phillipps, dan B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatra, Jawa,Bali, dan Kalimantan. LIPI/BirdLife-Indonesian Programme, Bogor


 
selengkapnya >>

My Adventure







selengkapnya >>

21 Maret, 2013

identifikasi jenis burung



IDENTIFIKASI JENIS BURUNG
oleh: LAURIO LEONALD


TUJUAN
1.      Meningkatkan pengetahuan teknik dan proses identifikasi jenis burung di lapangan
PENDAHULUAN
Identifikasi jenis burung merupakan teknik atau kemampuan yang sangat penting untuk dikuasai dalam kegiatan monitoring satwa liar, khususnya burung. teknik identifikasi burung dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan mengenali bentuk dan pendampilan fisik, berdasarkan kebiasaan dan tempat aktifitas, dan juga dari suaranya yang sangat beranekaragam. Untuk memperlancar dan mengefektifkan sebuah kegiatan monitoring, maka diperlukan kemampuan yang lebih dalam proses megidentifikasi. Untuk dapat mengetahui proses dan cara mengidentifikasi jenis burung di lapangan maka perlu adanya pelatihan mengenai identifikasi jenis burung.

PERALATAN YANG DIPERLUKAN
1.    Alat tulis
2.    Binokular
3.    Kamera
4.    Tape recorder
5.    GPS
6.    Kompas
7.    Buku panduan identifikasi burung (MacKinnon et al. 2010)





PROSES/METODE :
Gambar 1. Morfologi burung

Identifikasi burung didasarkan pada kombinasi dari beberapa ciri khas, termasuk penampakan umum, suara dan tingkah laku. Penting sekali untuk mencocokan sebanyak mungkin bagian burung, terutama warna pada bagian-bagian burung, misalnya garis putih pada ekornya, mungkin diingat dengan jelas, tetapi ciri-ciri lainnya terlupakan. Dalam pengecekan pada buku panduan lapangan pengamat dapat menemukan lebih dari satu burung yang memiliki gais putih pada ekor, tetapi tidak dapat mengingat warna atau ciri lainnya dai burung tersebut.
Maka dalam proses identifikasi burung, ada baiknya memperhatikan beberapa bagian penting yang dapat membantu kegiatan identifikasi jenis burung, sebagai berikut:
1.    Ukuran, yang dimaksud ukuran di sini adalah perbandingan ukuran burung yang kita jumpai dengan burung-burung yang kita kenali. Sebagai pembanding diurutkan dari burung yang terkecil ke burung yang terbesar (1. Pipit/bondol, 2. Kutilang, 3. Tekukur, 4. Alap-alap/Elang-alap, dan 5. Elang)

Gambar 2.  Perbandingan ukuran burung (a. Bondol kalimantan, b. Cucak kutilang, c. Tekukur biasa, d. Gagak hutane. Elang ular bido)

2.    Bentuk, ini dilihat dari tampilan fisik apakah burung tersebut pendek, tinggi, ramping, gemuk, berjambul, bentuk paruh dan sebagainya. Sebagai contoh misalnya (1. Tinggi ramping seperti bagau, 2. Pendek gemuk seperti tekukur, 3. Tinggi tegap seperti elang, 4. Berjambul seperti baza jerdon, 5. Paruh kait seperti burung betet, paruh panjang lancip dan melengkung seperti burung madu, dan bentuk lainnya)
Gambar 3.    Jenis burung berdasarkan bentuk paruh, (a). Pemakan biji, (b). Penghisap madu, (c). Pemakan cacing, (d). Pemakan serangga,    (e). Pemakan daging, (f). Pencari makan di air, (g). Pemakan ikan, (h). Pemakan buah

3.    Warna, burung memiliki warna yang sangat beraneka ragam dengan kombinasi yang sangat beragam dan unik, bahkan dalam satu spesies burung memiliki warna yang berbeda, misalkan antara jantan-betina, anak-dewasa. Pendekatan warna digunakan untuk membandingkan atau contoh, misalnya warna kuning seperti kepudang, hitam seperti gagak, hijau sepeti takur dan warna lainnya.
Gambar 4.  Perbandingan warna pada burung, (a. Burung Kepudang Kuduk Hitan dan Cucak Kuricang memiliki warna yang hampir sama, tetapi beda spesies, b. Jantan dan betina Sepah Tulin merupakan burung yang sama spesiesnya tapi memiliki warna yang berbeda, c. Cabai Rimba dan Cabai Gesit contoh burung yang memiliki warna dan corak hampir sama tapi memiliki keatajaman dan ketebalan corak warna yang sedikit bebeda, d. Perbedaan warna dikepala pada Kirik-kirik Biru remaja dengan yang dewasa.
4.    Prilaku, burung memiliki prilaku yang khas pada masing-masing jenisnya, seperti yang tidak bisa diam seperti cinenen, terbang melingkar dan hinggap pada ranting kering yang sama secara berulang seperti kirik-kirik, terbang disekitar bungan sambil menghisap madu seperti burung madu dan pijantung.
5.    Habitat dan regional, masing-masing jenis burung memiliki sebaran dan habitat atau tempat hidup baik untuk istirahat ataupun mencari makan yang berbeda. Seperti kirik-kirik yang biasa bertengger di pohon yang kering mengintai serangga, kareo padi biasa beraktifitas di permukaan tanah sekitaran sungai,
Gambar 5.  Penggunaan habitat untuk beraktifitas, (a). Di atas tanah sekitar sungai, (b). Pada lahan basah, (c). Di atas tanah kering, (d). Pada rumput dan semak, (2). Di pohon kering pada lahan terbuka, dan (f). Di pohon yang rimbun.

6.    Suara, Catat atau rekam suara burung, masing-masing jenis burung memiliki suara yang khas pada setiap jenisnya. Banyak burung yang sering dan hanya terdengar suaranya tanpa terlihat fisiknya, maka sangat penting untuk mempelajari suara burung dalam peroses identifikasi.
7.    Sketsa burung, gambar sketsa burung beserta catatan warna dan ciri-ciri pada bagian-bagian burung seperti ukuran tubuh, warna pada masing-masing bagian tubuh, bentuk paruh, ada tidaknya jambul, serta bebagai ciri lain yang tidak umum sepeti pada bagian penting yang haus diperhatikan pada point sebelumnya.

Proses identifikasi jenis burung terlihat sedikit rumit bila dilakukan oleh pemula, namun kalau sudah terbiasa, proses identifikasi dapat dilakukan dengan lebih cepat tanpa melakukan pembuatan sketsa dan merekam suaranya. Proses identifikasi dapat dilakukan dengan hanya melihat sekilas dari bentuk, ukuran, warna bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja.
Identifikasi raptor saat terbang dapat dilihat dari bentuk dan ukuran sayap, ekor, serta corak pada sayap dan ekor. Sebagai contoh perbedaan masing-masing jenis raptor saat terbang dapat dilihat pada gamba di bawah ini.
Gambar 4. Bentuk sayap, ekor dan pola warna raptor saat terbang (a. Elang Ular Bido, b. Elang Tikus, c. Elang Bondol, d. Elang Berontok, e. Elang Ikan Kepala Kelabu)


Sketsa untuk identifikasi burung jenis raptor

Sketsa untuk identifikasi burung

selengkapnya >>

04 Maret, 2013

Hylobates albibarbis

Hylobates albibarbis
Kotawaringin timur
Kalimantan tengah

Owa albibarbis adalah salah satu primata dari suku kera

selengkapnya >>

05 Maret, 2011

CARA MERINGKAS POSTINGAN PADA BLOG


CARA MERINGKAS POSTINGAN PADA BLOG
Cara meringkas postingan pada blog atau lebih dikenal dengan me read more atau menampilkan selengkapnya itu adalah cara untuk membuat tampilan blog kita lebih ringkas, lebih keren dah pokoknya biar keliatan blogger yang sudah sakti. Tapi selain merubah tampilan lebih ringkas, cara ini juga membuat blog kita lebih ringan saat orang membuka.
Sebelum pembaca lebih muak membaca ocehan saya, mending langsung saja kepada pokok bahasan materi pada hari ini.
1.       Jelas lah harus log in dahulu dan masuk ke dashbor trus cari blog mana yang mau kita edit. Setelah masuk dashbor langsung saja klik rancangan lalu klik edit HTML. Setelah edit HTML dibuka jangan lupa expand widgetnya dicontreng atau diceklis atau apa lah itu.
2.       Bagi yang belum yakin dan tidak terbiasa main di HTML sebaiknya download dahulu templatenya untuk menjaga keamanan, karena siapa tahu materi yang saya berika tidak cocok dengan blog anda.
3.       Cari kode </head>, biar lebih mudah dan cepat gunakan cara cepat dengan ctrl+f. Setelah ketemu lalu gantikan kode tersebut dengan kode di bawah ini :
<script type='text/javascript'>
var thumbnail_mode = "float&quot; ;
summary_noimg = 230;
summary_img = 140;
img_thumb_height = 100;
img_thumb_width = 100;
</script>
<script src='http://blogergadgets.googlecode.com/files/excerpt.js' type='text/javascript'/>
</head>



4.       Setelah kode </head> diganti lalu cari kode selanjutnya, yaitu <data:post.body/> dan ganti dengan kode di bawah ini :
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'>
<data:post.body/>
<b:else/>
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;static_page&quot;'>
<data:post.body/>
<b:else/>
<div expr:id='&quot;summary&quot; + data:post.id'>
<data:post.body/>
</div>
<script type='text/javascript'>
createSummaryAndThumb(&quot;summary<data:post.id/>&quot;);
</script>
<div style='clear: both;'/>
<span style='padding-top:5px;;float:right;text-align:right;'><a expr:href='data:post.url' rel='bookmark'><b>Read more >></b></a></span>
</b:if>
</b:if>

Tampilan read more bisa anda ganti denga selengkapnya atau apalah semaunya dengan merubah kata read more pada kode di atas.

5.       Nah kalo semua proses di atas sudah maka langsung simplan template, tapi bisa juga anda pratinjau lebih dulu untuk melihat keberhasilan pengeditan blog anda.
semoga berhasil dan bermanfaat, sekian materi hari ini apabila ada kendala dalam proses maka banyak-banyaklah berdoa dan memohon petunjuk kepada Tuhan. Terimakasih atas kunjungannya, jangan kapok belajar bersama riobelajar.

selengkapnya >>

01 Maret, 2011
















selengkapnya >>

01 Februari, 2011

mewujudkan REDD+

MEWUJUDKAN REDD+
download file lengkap di sini
RINGKASAN
Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, dan peningkatan cadangan karbon hutan di negara-negara berawal (REDD+) dari suatu prakarsa global. Sebagian besar pokok perdebatan awal menyangkut kerangka REDD+ global dan bagaimana memasukkan REDD+ ke dalam perjanjian tentang iklim setelah tahun 2012. Namun perdebatan dan fokus tindakan sekarang semakin bergeser ke tingkat nasional dan daerah. Lebih dari empat puluh negara sedang mengembangkan strategi dan kebijakan nasional tentang REDD+, dan ratusan proyek REDD+ telah dimulai di kawasan tropis. Buku ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai proses-proses yang berlangsung di tingkat nasional dan daerah, dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar: Bagaimana negara yang terlibat mengurangi emisi dan meningkatkan cadangan karbon dengan harapan mendapat imbalan lewat mekanisme global? Lembaga, proses, kebijakan, dan proyek baru apa saja yang diperlukan? Apa saja pilihan yang tersedia untuk masing-masing faktor ini, dan bagaimana cara membandingkannya?
Buku ini berupaya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menjajaki seperti apakah wujud REDD+ dalam keempat hal, yaitu: lembaga dan proses untuk menyusun kerangka landasan REDD+, reformasi kebijakan dalam arti luas sehingga memungkinkan pelaksanaan REDD+, kebijakan sektoral untuk mengubah insentif, dan kegiatan percontohan untuk menguji dan mempelajari berbagai pendekatan. Tidak ada satu pun rekomendasi yang berlaku untuk semua. Kebanyakan bab memberikan berbagai pilihan dan membahas keunggulan hasilnya, yaitu dalam hal keefektifan (effectiveness) dari segi iklim, efisiensi (efficiency) dari segi biaya, dan kesetaraan (equity), dan juga manfaat tambahannya, yaitu: keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan lainnya (environment), pengurangan kemiskinan dan penghidupan berkelanjutan, tata kelola dan hak-hak masyarakat, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Untuk memudahkannya, kami menyebut semua kriteria ini 3E+.
Gagasan pokok yang melatari REDD+ ialah memberi imbalan berbasis kinerja, yaitu membayar pemilik dan pengguna hutan untuk mengurangi emisi dan meningkatkan upaya peniadaan emisi. Imbalan jasa lingkungan (PES) memiliki keunggulan sebagai berikut: memberikan insentif langsung yang mengikat kepada pemilik dan pengguna hutan untuk mengelola hutan dengan lebih baik dan mengurangi penebangan kawasan berhutan. PES akan sepenuhnya mengganti rugi pemegang hak atas karbon yang telah yakin bahwa melestarikan hutan lebih menguntungkan daripada pilihan lainnya. Secara sederhana, mereka menjual kredit (hak atas) karbon hutan dan mengurangi usaha beternak sapi, perkebunan kopi atau kakao atau pembuatan arang.
Meskipun berbagai sistem PES untuk pelestarian hutan telah berjalan selama beberapa waktu, terdapat rintangan untuk penerapannya di bidang yang lebih luas. Hak guna lahan dan hak atas karbon harus diberi batasan yang jelas, namun kebanyakan “titik utama” deforestasi dicirikan oleh hak atas lahan yang tidak jelas dan diperebutkan. Karbon hutan harus dipantau secara rutin sesuai luas kawasan yang diberi imbalan. Tatanan kelembagaan masyarakat dan pemerintah yang terlibat perlu ditetapkan untuk mengelola imbalan dan informasi, dan untuk mengaitkan sistem PES daerah dengan sistem REDD+ nasional (atau global). Tingkat rujukan terpercaya juga perlu dimantapkan, yang mencerminkan apa yang mungkin terjadi tanpa penerapan REDD+. PES mungkin merupakan pilihan alat penerapan REDD+ nasional dalam jangka menengah hingga panjang, dan perlu didorong sebagai strategi pelestarian yang terbuka dan adil, namun kebijakan ini kemungkinan tidak akan menjadi alat utama REDD+ di kebanyakan negara dalam jangka pendek.
Dengan demikian, keberhasilan pelaksanaan REDD+ menuntut seperangkat kebijakan yang lebih luas. Kebijakan ini mencakup reformasi kelembagaan dalam hal tata kelola, hak guna lahan, desentralisasi, dan pengelolaan hutan kemasyarakatan. Kebijakan pertanian dapat membatasi kebutuhan akan lahan pertanian baru. Kebijakan energi dapat membatasi tekanan atas degradasi hutan akibat pengambilan kayu bakar sedangkan praktik pembalakan ramah lingkungan dapat membatasi dampak berbahaya dari pemanenan kayu. Penetapan kawasan yang dilindungi1 terbukti berhasil melindungi hutan. Selain itu, walaupun masih jauh dari sempurna, dukungan terhadap kawasan yang dilindungi perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi REDD+ nasional yang menyeluruh.
Untungnya, kita memiliki pengalaman dan hasil penelitian tentang pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut selama beberapa dasawarsa. Tujuan utama buku ini ialah mengumpulkan dan menyajikan pelajaran yang dapat diambil dari segi kebijakan. Tentu saja ada unsur-unsur baru dalam REDD+ dibandingkan dengan upaya pengelolaan hutan di masa silam. Dua unsur terpenting ialah besarnya potensi pendanaan tambahan dan perhatian pada kegiatan yang berbasis kinerja. Namun sebagian besar kebijakan nasional yang direncanakan untuk diterapkan dapat dibandingkan dengan mengukur percobaan di masa lalu yang hasilnya sering kali mengecewakan. Dengan demikian, tantangan utamanya ialah mengembangkan dari pengalaman yang ada tanpa mengulangi kesalahan sebelumnya.





sumber : http://www.cifor.cgiar.org/
selengkapnya >>