homephoto grallerybuku tamulinktentang kamihome
Tampilkan postingan dengan label kehutanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehutanan. Tampilkan semua postingan

13 September, 2013

Falco moluccensis

ALAP-ALAP SAPI Falco moluccensis Bonaparte,1850
Spotted Kestrel
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk memperbesar"
Jawa
Deskripsi: Berukuran kecil (30 cm), duduk tegak, berwarna coklat gelap. Jantan: mahkota dan tubuh bagian atas coklat kekuningan, bergaris dan berbintik hitam tebal, tubuh bagian bawah kuning suram, bercoret hitam tebal. Ekornya abu kebiruan dengan ujung putih dan garis lebar hitam pada bagian subterminal. Betina: ukuran lebih besar, dengan garis tebal pada ekor. Remaja: mirip dewasa, tetapi berwarna lebih pucat dan ekor coklat dengan garis-garis gelap.


Iris coklat, paruh abu-abu kebiruan dengan ujung hitam dan sera kuning, tungkai dan kaki kuning.
Suara: Burung muda berteriak berulang-ulang:"kiri kiri kiri" ketika bertemu induknya, atau "kekekeke"' yang kencang ketika panas hati. Suara tersebut juga dikeluarkan burung dewasa untuk menunjukkan wilayah teritorialnya.
Penyebaran global: Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.
Penyebaran lokal dan status: Satu kali tercatat di Kalimantan selatan. Penghuni tetap di habitat terbuka pada semua ketinggian di Jawa dan Bali.
Pakan: Mamalia kecil, kadal, burung kecil dan serangga yang berukuran besar. Seringkali terlihat membawa mangsanya sambil terbang.
Berbiak : Tidak banyak informasi mengenai musim berbiak untuk jenis ini, namun mulai membangun sarang pada bulan maret atau April sampai September dan Oktober. Sarang terbuat dari ranting – ranting di pepohonan atau tebing, kadang di gedung perkotaan namun catatanya sangat sedikit sekali. 
Jumlah telur bisa mencapai 4 butir.
Kebiasaan: Penerbang yang sangat anggun, terbang melingkar perlahan, atau melayang-layang diam sambil mengepakkan sayap ketika berburu. Menukik ketika memangsa, sering mengambil mangsa dari atas tanah. Bertengger pada tiang atau di atas pohon mati. Lebih menyukai daerah terbuka
Cerita dari Lapangan: Merupakan jenis yang dapat dijumpai di berbagai tipe habitat, pernah dijumpai di areal pertanian, pemukiman, hutan pinus, semak. Waktu kecil jenis ini sering terlihat dari rumah terbang diatas aeal pertanian dan tanaman bambu terbang melingkar ke atas, dan tiba-tiba menukik dengan cepat. 
Pada tahun 2011 pernah dijumpai di hutan pinus Karang Sari Taman Nasional Gunung Ciremai (waktu itu awal penulis terjun di dunia birding) teramati berpasangan dan bersarang di pohon yang tidak dikatehui jenisnya tepat di tepi hutan pinus.
Pertengahan 2013 jenis ini sempat dijumpai di kawasan permukiman/perkotaan (taman dahlia depan kantor Pemda Kabupaten Kuningan). Teramati sesekali terbang melingkar dan menukik. tidak jauh dari perjumpaan tersebut Alap-alap Sapi ini juga terlihat terbang melingkar mengawasi ke bawah di atas lahan pertanian (sawah) di daerah Ciperna, Kota Cirebon.
Masih penasaran dengan Alap-alap sapi, karena penulis belum pernah mendapatkan dokumentasinya pada tanggal 10 Oktober 2013 pada saat memantau pohon pinus yang berdiri di tengah lahan terbuka, karena menurut beberapa orang di pohon pinus tersebut sempat teramati Elang Brontok (Nisaetus/Spizaetus cirrhatus) sedang bersarang. Hanya terlihat sarang yang mungkin masih dibangun, karena ukurannya yang masih kecil, malah muncul Alap-alap Sapi terbang melingkar melingkari pohon pinus tersebut lalu terbang ke arah atas menuju daerah yang ditutupi pohon pinus.
Sempat panik saat pertama terlihat, untungnya segera tersadar untuk segera mengambil kamera untuk mendokumentasikan perjumpaan ini, alhasil dapat satu foto yang cukup untuk identifikaksi. 
Berdasarkan pengamatan, Alap-alap Sapi (Falco moluccensis) memanfaatkan angin yang cukup besar untuk terbang ke atas, dan akan menyusuri dinding tebing untuk menghindari hembusan angin yang terlalu kencang.
Status Perlindungan: Dilindungi Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya dan PP 7 dan 8 Tahun 1999. Appendix II CITES.

 

Sumber:  
MacKinnon, J., K. Phillipps, dan B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatra, Jawa,Bali, dan Kalimantan. LIPI/BirdLife-Indonesian Programme, Bogor


 
selengkapnya >>

18 Juni, 2013

First Record Accipiter badius of Borneo


First Record Accipiter badius of Borneo

Accipiter badius adalah salah satu jenis raptor dari keluarga Accipitridae yang penyebarannya tercatat di India, Cina Selatan, dan Asia Tenggara. Menurut literatur Accipiter badius di Indonesia  merupakan pengunjung musim dingin yang tidak umum di dataran rendah Sumatera, tapi kemungkinan karena jarang dikenali. Accipiter badius berukuran sedang (32 cm), berwarna pucat Jantan: bagian atas abu-abu pucat dengan bulu primer hitam kontras, tenggorokan putih dengan setrip abu-abu samar di tengah tenggorokan, dada dan perut bergaris-garis merah karat dan putih sempit melintang. Betina: seperti jantan, tetapi punggung coklat dan tenggorokan abu-abu. Remaja: coklat abu-abu bersisik merah karat, bagian bawah bergaris-garis coklat, ada setrip hitam di tengah tenggorokan (MacKinnon et all, 1998). Jenis ini cukup sulit untuk dikenali karena memiliki banyak kemiripan dengan jenis Accipiter lainnya.
Accipiter badius perjumpaan pertama
 
Accipiter badius perjumpaan ke-dua
Tulisan ini melaporkan catatan perjumpaan pertama dengan Accipiter badius untuk Kalimantan yang belum diketahui sebagai penetap atau jenis migrasi. Berdasarkan catatan, Accipiter badius teramati sebanyak 2 kali perjumpaan dengan rentang waktu yang berbeda pada lokasi yang sama (08:40 AM, 10 Februari 2013 dan 08:20 AM, 10 Maret 2013, kawasan HCV perkebunan kelapa sawit PT. MSM, Wilmar, Kotawaringin Tiamur, Kalteng).

Catatan pertama (08:40 AM, 10 februari 2013), Accipiter badius di lapangan teramati 1 individu keluar dari kawasan hutan terbang mengusir jenis lain (Accipiter trivirgatus) dan terbang melingkar semakin tinggi ke atas terus menjauh dari kawasan hutan. Catatan kedua (08:20 AM, 10 maret 2013), Accipiter badius teramati 1 individu pada lokasi yang sama keluar dari kawasan hutan terbang menyerang Elanus caerulaeus yang merupakan jenis raptor yang dominan di lokasi tersebut. Seperti pada perjumpaan pertama jenis ini terbang melingkar semakin tinggi ke atas dan menjauh dari kawasan.
  
Selain Accipiter badius pada kawasan yang memiliki luasan + 20 ha ini tercatat perjumpaan dengan jenis raptor yang menetap pada kawasan tersebut lainnya, seperti Elanus caeruleus, Spilornis cheela, Accipiter trivirgatus, Accipiter gularis, dan Strix leptogrammica. Kawasan ini memiliki kepadatan yang cukup tinggi, karena pada kawasan berhutan yang tidak jauh dari lokasi teramati perjumpaan dengan jenis lainnya, seperti Spizaetus cirrhatus, Pernis ptilorhynchus, Haliastur Indus, Aviceda jerdoni, Microhierax fringillarius, Hieraaetus kienerii, Macheiramphus alcinus. Padatnya populasi pada kawasan ini sangat mungkin dikarenakan semakin menyempitnya habitat akibat tingginya tingkat defoestasi, namun selain itu bisa juga padatnya pada kawasan terjadi karena luasnya areal berburu dan melimpahnya pakan yang tersedia.

Perjumpaan pertama Accipiter badius ini sangat menjadi temuan yang menarik, karena selain merupakan perjumpaan di Kalimantan, jenis ini sangat jarang tercatat masuk ke Indonesia. Berdasarkan hasil pengamatan maka perlu adanya penelitian lanjutan terhadap Accipiter badius untuk mengetahui populasi dan kemungkinan bahwa jenis ini merupakan jenis penetap Kalimantan.

Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada Michal Zrust selaku project manager Biodiversity and Oil Palm dari ZSL Indonesia beserta teman-teman ZSL Indonesia di lapangan Lili Aris, Achmad S Suhada, Edwin Hermawan, dan Sugeng Wahyudi yang mendukung dan menemani penulis saat pengamatan di lapangan. Terimakasih juga kepada Surya Purnama dan Forendadi dari departemen HCV wilmar yang menjadi teman diskusi. Selain itu terimakasih ini saya ucapkan untuk Asman Adi Purwanto dari RAIN atas bantuan indetifikasi dan motivasinya.

Refrences
MacKinnon, J., K. Phillips & B. van Balen. 1998. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Puslitbang Biologi LIPI and BirdLife International Indonesia Programme, Jakarta. [In Indonesian]
Agus Nurza, Mulyawati Dwi, Husnurrizal, et all. 2009. First Breeding Record of Shikra Accipiter badius in Indonesia. Kukila 14.
selengkapnya >>

16 Juni, 2013

Pelepasliaran Owa Jawa

Pelepasliaran Owa Jawa (Hylobates moloch) di Kawasan Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
15, Juni 2013

Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan membuka pintu kandang
Hylobates moloch adalah satwa endemik Pulau Jawa yang populasinya sudah tidak terlalu banyak lagi, hanya 4000-4500 individu (Nijman, 2004 dalam IUCN). spesies ini hanya terdapat di beberapa kawasan yang terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah sepeti Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Hutan Lindung Gunung Papandayan, Hutan Lindung Gunung Slamet, dan beberapa kawasan lainnya. Pada tahun 2008 menurut IUCN Hylobates moloch masuk ke dalam daftar satwa yang memiliki status endangered (terancam punah).

Pada 15 Juni 2013 Yayasan Owa Jawa melepasliarkan sepasang Hylobates moloch yang dilepaskan langsung oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di kawasan Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar, Bandung. Acara pelepasliaran dihadiri olaeh banyak pihak yaitu Menteri Kehutanan, Dirjen PHKA, Pemerintah Kabupaten, Kedutaan Amerika, Perhutani, Yayasan Owa Jawa, ZSL Indonesia, International Animal Rescue, teman-teman media, dan partisipan lainnya. Sepasang Hylobates moloch yang diberi nama Sadewa (jantan) dan Kiki (Betina) yang dilepas ini telah direhabilitasi di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa di Resort Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango selama 5 tahun yang sebelumnya merupakan peliharaan masyarakat yang diserahkan. 

Sadewa dan Kiki, masih di kandang

Sebelum dilepasliarkan Hylobates moloch melalui rangkaian rehabilitasi seperti kesehatan, sosialisasi, dan yang terakhir adalah habituasi dengan membiasakan hidup di tempat berhutan. Harus juga dipastikan bahwa mereka akan dapat mencari makan sendiri dan bertahan hidup di alam liar, karena sebelumnya sudah terbiasa dengan bantuan manusia. Sadewa dan Kiki dibawa sekitar 15 hari sebelum dilepaskan dengan disimpan dikandang habituasi yang dilakukan pengangkutan dari Resort Bodogol pada 29 Mei 2013. 



 
Sadewa Setelah dilepas dari kandang
Pada saat sambutan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan berharap Hylobates moloch yang dilepasliarkan pada kawasan Gunung Puntang tidak hanya satu pasang saja, karena akan kesepian mungkin bisa 2 atau 3 pasang bisa menyusul untuk dilepasliarkan. Selain itu harapan lainnya pelepasliaran yang dilakukan ini menandai perubahan budaya masyarakat Indonesia untuk tidak lagi mengejar, memburu, apalagi membunuh satwa-satwa, terutama yang terancam punah seperti Owa Jawa, Orangutan, Gajah, Harimau, Badak dan lain-lain. Sambil menunjukan foto Hylobates moloch yang matanya penuh harap sambil bercanda Zulkifli Hasan mengatakan tuh lihat "tolong manusia jangan kejem-kejem sama kami".





Kiki Setelah dilepas dari kandang
Salah satu alasan kenapa Sadewa dan Kiki dilepaskan di Gunung Puntang karena pada kawasan ini sudah dipastikan adanya tumbuhan pakan dan sebelumnya pernah diidentifikasi keberadaannya di kawasan Gunung Puntang pada tahun 1990-an, walaupun pada saat ini tidak ada satupun yang pernah dijumpai lagi keberadaannya. Dengan adanya pelepasliaran di Gunung Puntang harapannya dapat berkembang biak dan menambah populasinya, sehingga terhindar dari kepunahan.

Setelah dilepasliarkan Sadewa dan Kiki akan dimonitoring perkembangannya selama beberapa bulan untuk memastikan mereka dapat bertahan hidup dan kesehatannya terjaga. selain untuk memastikan dapat bertahan hidup, tujuan dari monitoring prilaku dan aktivitas harian ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai Hylobates moloch secara keilmuan.




Sadewa sudah mulai bergelantungan
Peta area pengamatan Owa Jawa
Kawasan Hutan Gunung Puntang

selengkapnya >>

08 Juni, 2013

raptors

RAPTOR
masih dalam pengerjaan, jadi maklum kalo belum maksimal
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk membuka link"
Elanus caeruleus
Spilornis cheela
Accipiter trivirgatus


Accipiter gularis
Accipiter badius
Spizaetus cirrhatus


Spizaetus bartelsi
Pernis ptilorhynchus
Aviceda jerdoni




Hieraaetus kienerii
Ictinaetus malayensis
Haliastur indus



Microhierax fringillarius
Strix leptogrammica
Falco moluccensis
selengkapnya >>

31 Desember, 2010

pedoman lapangan survey cepat keanekaragaman hayati


PEDOMAN LAPANGAN SURVEY CEPAT KEANEKARAGAMAN HAYATI
(QUICK BIODIVERSITY SURVEY - QBS)
Dalam Penilaian Cepat terhadap Agrobiodiversitas (RABA)
Trees in Multi-Use Landscape in Southeast Asia (TUL-SEA)
Seperangkat metode pendukung proses negosiasi dalam pengelolaan sumberdaya alam
Dasar dan Pendekatan
Penyebab utama penurunan keanekaragaman hayati pada suatu bentang alam adalah kegiatan konversi hutan ke sistem pertanian yang intensif dan cenderung monokultur. Keanekaragaman hayati memiliki peran yang penting untuk menjaga keberlangsungan suatu ekosistem, hanya saja tekanan ekonomi seringkali mengurangi tingkat penghargaan manusia terhadap peran keanekaragaman hayati. Untuk mengimbangi tersebut, skema pembayaran jasa lingkungan (Rewards/Payments for environmental services) dikembangkan untuk menghargai orang-orang yang melalui praktek kesehariannya telah berkontribusi terhadap konservasi keanekaragaman hayati. Penilaian Cepat terhadap Agro-biodiversitas (Rapid Agro-Biodiversity Appraisal - RABA) adalah metode yang dirancang untuk mengidentifikasi informasi-informasi yang diperlukan untuk mengetahui pihak-pihak yang diuntungkan dari keanekaragaman hayati, dan perspektif dari penyedia jasa lingkungan (penjual), pemanfaat jasa lingkungan (pembeli) dan pihak yang memfasilitasi penjual dan pembeli dalam pengembangan mekanisme penghargaan atau pembayaran jasa lingkungan. Terkadang ketidak tersediaan data inventarisasi keanekaragaman hayati yang ada di lokasi menjadi kendala utama. Ketiadaan data umumnya disebabkan oleh lamanya waktu yang diperlukan untuk melakukan inventarisasi detail dengan metode ekologi yang baku. Oleh karena itu, Quick Biodiversity Survey (QBS) dikembangkan dengan fokus hanya untuk menginventarisasi jenis-jenis bioindikator dari taxa tertentu yang cukup mudah ditemukan dan memiliki korelasi yang cukup kuat terhadap tingkat perubahan lahan.

Quick Biodiversity Survey (QBS)
QBS adalah survey keanekaragaman hayati pada tingkat bentang alam di suatu desa dengan menggunakan indikator taxa. Taxa yang direkomendasikan antara lain: pohon, kelelawar, diurnal primata, burung, mamalia kecil dan kumbang tinja yang diamati dalam satu transek (sepanjang 1 km) dengan metode yang berbeda per tipe taxa-nya. Minimal dilakukan 2 transek per tipe penggunaan lahan. Waktu yang diperlukan untuk melakukan QBS di satu desa adalah 2-3 minggu pengamatan di lapangan dan 1 bulan untuk verifikasi hasil identifikasi jenis, analisa dan interpretasi data ke dalam bentuk laporan. Identifikasi jenis dilakukan dengan metode standar yang biasa dilakukan per masing-masing taxa. Selama pengambilan data, juga dicatat langsung di lapangan atau dikoleksi informasi data sekunder mengenai parameter fisik (suhu, curah hujan, tipe tanah, ketinggian dan kelembaban).

Bagaimana melakukan QBS?
Sampling area
Lokasi yang dijadikan tempat pengambilan sampel (sampling area) harus mewakili tipe-tipe penutupan lahan berbasis pohon yang ada di areal desa yang akan disurvey, diklasifikasikan dengan habitat hutan dan non hutan. Habitat hutan adalah area yang belum pernah ditanami secara intensif oleh manusia, bisa berupa hutan primer, hutan bekas penebangan. Habitat non hutan adalah area yang sudah pernah ditanami secara intensif oleh manusia, bisa berupa kebun karet campur, kebun agroforest durian, pekarangan rumah, belukar, sesap, kebun yang cenderung monokultur. Sampling area minimal berjarak 100 m dengan tipe landuse lainnya.

Kelelawar (Chiroptera)
Komposisi team : minimal 1 orang terbiasa dengan identifikasi kelelawar dan 2 orang yang tahu kondisi lapangan dan bisa memanjat pohon.
Alat dan bahan : mistnet dengan lebar mesh 30-32 mm terbuat dari sejenis benang nilon halus ikatan rangkap.

Metode
Pemasangan mistnet kelelawar dilakukan selama 3-4 hari per transek, pada sore hari pukul 17.00. Pengecekan mistnet dilakukan pukul 06.00 setiap hari.
Pengecekan mistnet pada malam hari (sekitar jam 19.00-22.00) hanya dilakukan jika pada malam sebelumnya ditemukan mistnet yang rusak. Mistnet dipasang di tempat lalu lintas kelelawar seperti: sungai, perbukitan, pintu hutan dan daerah bukaan sekitar tepi atau tengah hutan. Mistnet dipasang sebanyak 4-5 jaring per transek dengan ketinggian antara 0.5 meter sampai 10 meter dari atas tanah, tergantung pada tipe kerapatan pohon:
·      tipe kerapatan yang cukup rapat (contohnya: hutan), mistnet dipasang mulai dari 0.5 m (selama 2 hari) dan kemudian dinaikkan posisinya maksimum setinggi lebar mistnet. Panjang mistnet yang digunakan 6 meter dengan lebar 2.5 meter, 1 mistnet per titik subplot.
·      tipe kerapatan sedang (contohnya kebun karet campur), mistnet dipasang mulai dari 3-5 meter (selama 2 hari). Panjang mistnet yang digunakan 6-10 meter dengan lebar 2.5 meter.
·      tipe kerapatan terbuka, mistnet dipasang 3-10 meter (2 hari) tergantung pada tipe kerapatan pohon di daerah sekelilingnya. Panjang mistnet yang digunakan 10 meter dengan lebar 2.5 meter. Jika memungkinkan, dengan kondisi tutupan lahan yang terbuka, panjang mistnet yang digunakan bisa lebih dari 10 meter (maksimal panjang mistnet = 18 meter).
Mistnet kurang efektif untuk kelelawar pemakan serangga (Microchiroptera) karena mereka bisa melihat net dengan kemampuan echolokasinya. Oleh karena itu, cacah sarang (eksplorasi sarang) juga dilakukan di gua, lipatan daun pisang, lipatan pohon kelapa, di lubang bambu dan sekitar atap rumah.
Sampel kelelawar yang terjerat, diidentifikasi, dihitung dan dilepaskan kembali. Jika sampel sulit diidentifikasi, sampel dibunuh dengan disuntik kloroform, kemudian diukur panjang tubuhnya, berat, telinga, ekor, tarsus, tibia serta sayapnya, dan dimasukkan dalam kotak plastik berisi alkohol 70%. Selanjutnya spesimen tersebut dibawa ke ahli kelelawar untuk diidentifikasi spesies dan fungsi ekologinya.

Mamalia kecil (kebanyakan hewan pengerat - rodentia)
Komposisi team : minimal 1 orang yang terbiasa dengan identifikasi mamalia kecil dan 2 orang yang tahu kondisi di lapangan.
Alat dan bahan : perangkap Kasmin, umpan (ikan asin, kelapa sawit, kelapa bakar)
Metode:
Data mamalia kecil diperoleh dengan memasang perangkap Kasmin yang terbuat dari besi dengan spesifikasi ukuran panjang 26 cm, lebar 13 cm dan tinggi 13 cm. Perangkap kasmin teruji cukup efektif dibandingkan tipe perangkap tikus lainnya seperti perangkap jepit, perangkap rumahan. Pemasangan perangkap dilakukan selama 24 jam untuk 3-5 hari. Umpan yang digunakan adalah ikan asin kelapa sawit (yang sudah matang dan berwarna orange) dan kelapa bakar. Sistem pemasangan perangkap secara berseling antara jenis umpan yang satu dengan yang lain, misalnya pada plot 1 dipasang umpan kelapa sawit+kelapa bakar, maka di plot 2 dipasang kelapa sawit+ikan asin, di plot 3 kembali dipasang umpan kelapa sawit+kelapa bakar.
Dalam 1 transek (1 km), dipasang 25-30 trap dengan jarak antar trap 10-40 m (berdasarkan luas daerah jelajah mamalia kecil pada umumnya). Trap dipasang sekitar 5-10 meter dari transek, atau di area yang diduga merupakan daerah lalu lintas mamalia kecil, seperti dekat pohon tumbang yang sudah berlubang. Sampel mamalia yang tertangkap, diidentifikasi, dihitung dan dilepaskan kembali.
Jika sampel sulit diidentifikasi, sampel dibunuh dengan menyuntikkan kloroform, kemudian diukur panjang tubuhnya, berat, telinga, ekor, tarsus, serta tibia, dan dimasukkan dalam kotak plastik berisi alkohol 70%. Selanjutnya spesimen tersebut dibawa ke ahli mamalia untuk diidentifikasi spesies dan fungsi ekologinya.

Kumbang tinja (Coleoptera; Scarabaeidae)
Komposisi team: efektif 2 orang (1 orang yang terbiasa dengan identifikasi serangga dan 1 orang asisten yang terbiasa dengan pengambilan data detail).
Alat dan bahan : mangkok kuning ukuran 750 ml dan umpan tinja manusia.

Metode
Pengambilan sampel dilakukan dengan umpan tinja manusia yang teruji paling banyak mengundang jenis kumbang tinja. Umpan tinja dipasang pada sumuran (pit fall) yang sudah diberi larutan pembunuh (larutan detergen+garam), dengan jumlah umpan 10 per 1 km transek. Perangkap tinja dipasang tiap 100 meter (ini berdasarkan kapasitas maksimum kumbang tinja untuk mencium bau umpan) dengan lama pemasangan ± 24 jam. Perangkap dipasang di lokasi yang cukup aman dari gangguan hewan ataupun hujan. Jika cukup banyak hujan, maka dapat digunakan penutup dari logam/plastik 20-30 cm di atas perangkap. Umpan sumuran dibuat dengan mangkok kuning ukuran 750 ml.
Sampel kumbang dikumpulkan dan dimasukkan dalam botol plastik berisi alkohol 70%. Selanjutnya spesimen dibawa ke laboratorium dan dikonsultasikan ke ahli kumbang untuk diidentifikasi.

Primata
Komposisi team : 1 orang yang sudah terbiasa dengan identifikasi primata dan 2 asisten yang mengerti kondisi lapangan.
Alat dan bahan : Binokular dan handcounter

Metode
Primata disampling dengan menginventarisasi jenis dan populasi yang ditemukan pada transek 1 km di tiap tipe penutupan lahan. Populasi jenis per transek dihitung secara total yang ditemukan per satu kali ulangan/ observasi. Untuk 1 transek minimal dilakukan 3 kali pengulangan. Pengamatan dilakukan selama 3-4 hari tiap transek. Pengamatan dilakukan pada pagi dan sore hari. Hujan terkadang menjadi kendala dalam pengamatan karena primata cenderung berlindung pada saat hujan sehingga sukar untuk terlihat. Penemuan sarang juga didokumentasikan, misalnya untuk pengamatan orang utan (Pongo sp.).

Burung
Komposisi team : 1 orang yang sudah terbiasa dengan identifikasi burung dan 3 orang asisten.
Alat dan bahan : Binokuler Reiner 10 X 50 mm, GPS, handcounter, kompas orientasi, meteran gulung, tali rafia, golok, tabel pengamatan, papan jalan, alat tulis dan buku panduan lapangan. Kamera dengan spesifikasi perbesaran optikal yang setara dengan lensa tele 600 mm.
Metode
Pengamatan dilakukan pada pagi hingga sore hari yaitu pukul 05.30 sampai dengan pukul 17.00, selama 3 hari tiap 1 km transek, jika waktu memungkinkan. Lima hari tiap transek akan lebih efektif jika cuaca mendukung. Pengamatan dilakukan dengan berjalan cepat tapi tidak bersuara (untuk identifikasi burung terrestrial yang sensitive dengan keberadaan manusia), berjalan perlahan-lahan (untuk identifikasi burung yang beraktivitas di tajuk), menunggu dengan tenang (di tempat yang paling sering dikunjungi burung, misalnya pohon Ficus yang berbuah, atau sungai kecil di musim kemarau).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif survey dengan teknik pengambilan data menggunakan Daftar 20 Mackinnon (Mackinnon dan Phillips, 1993 dalam Bibby, 1999). Dalam 1 daftar berisi maksimum 20 species. Setelah 20 spesies terdaftar, jika ditemukan perlu dibuat daftar baru yang dapat berisi spesies yang sudah ada dalam daftar sebelumnya. Jika suatu spesies ditemukan kembali dalam 1 daftar yang belum mencapai 20 spesies, maka spesies tersebut hanya dihitung sebagai tambahan populasi pada spesies yang sama (bukan spesies baru).

Pohon dan sapling
Komposisi team : 1 orang yang terbiasa dengan identifikasi pohon dan 1 orang asisten untuk mengukur diameter pohon.
Alat dan bahan : plastik transparan, label spesimen, gunting stek, meteran dan alat tulis.

Metode
Inventarisasi jenis vegetasi dilakukan dengan membuat plot berbentuk lingkaran per 100 meter pada 1 km transek. Vegetasi jenis pohon disampling pada 2 tingkat:
(i) Pohon (ukuran diameter plot = 8 meter)
Semua tumbuhan (keliling > 31 cm) yang berada di dalam plot beradius 8m diinventarisasi nama lokal, lingkar pohon (cm), status phenology (berbuah, berbunga), juga informasi tentang apakah jenis pohon tersebut berbuah atau tidak.
(ii) Tiang (Sapling) (ukuran diameter plot = 4 meter)
Semua tumbuhan (lingkar pohon < 31 cm dan tinggi > 2m) yang berada di dalam plot beradius 4m diinventarisasi nama lokal dan jumlah individu per jenisnya.
Spesimen tumbuhan dikumpulkan dengan metode standar, jika tidak diketahui nama latinnya.

Daftar pustaka
Kuncoro SA, van Noordwijk M, Martini E, Saipothong P, Areskoug V, Ekadinata A, dan O’Connor T. 2006. Rapid Agrobiodiversity Appraisal (RABA) in the contex of Environmental Service Rewards. Bogor, Indonesia. World Agroforestry Centre- ICRAF, SEA Regional Office. 106p.
Mackinnon, J dan Phillips, K. 1993. Field Guide to the Birds of Sumatera, Borneo, Java and Bali (The Greater Sunda Islands). Oxford University Press. Oxford.


selengkapnya >>