ELANG PERUT KARAT Hieraaetus kienerii Geoggroy Saint Hilaire, 1835
Rufous-bellied Eagle
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk memperbesar"
 |
| Jawa |
 |
| Jawa |
 |
| Jawa |
 |
| Kalimantan |
 |
| Kalimantan |
 |
| Kalimantan |
Deskripsi: Berukuran
agak kecil (50 cm), berwarna coklat kemerahan, hitam, dan putih, dengan
jambul pendek. Dewasa: mahkota, pipi dan tubuh bagian bawah kehitaman;
ekor coklat dengan garis hitam tebal dan ujung putih. Dagu,
tenggorokan, dan dadanya putih, bercoret-coret hitam; sisi tubuh, perut,
paha, dan bagian bawah ekor coklat kemerahan dengan coretan hitam pada
perut. Pada waktu terbang terlihat bercak bulat yang pucat pada pangkal
bulu primer. Remaja: tubuh bagian atas coklat kehitaman dengan bercak
kehitaman pada mata, alis keputih-putihan, dan tubuh bagian bawah
keputih-putihan. Iris merah, paruh kehitaman, sera dan kaki kuning.
Suara: Pekikan tinggi “cirrep”, didahului dengan nada-nada awal yang tinggi. Juga teriakan tinggi “kliu” (M&V).
Penyebaran global: India selatan, Himalaya, Asia tenggara, Filipina, Sulawesi, dan Sunda Besar.
Penyebaran lokal dan status: Penghuni yang tidak umum pada kawasan hutan (sampai ketinggian 1.500 m) di Sunda Besar.
Pakan: Memakan burung termasuk ayam hutan dan merpati. Juga memakan mamalia anatara lain tupai.
Berbiak : Waktu
berbiak Elang Perut Karat dibagian lain Asia dikatakan berbiak antara
Desember - Maret (Srilanka dan India Selatan) dan February (Filipina)
(Thiolay 1994; Robson 2000). Di Sumatera keberadaan burung muda bersama
sarang teramati pada juli 2007 (Iqbal et al 2011). Sarang
berukuran besar dibangun oleh sepasang induk di tajuk tertinggi pohon
pada hutan yang lebat. Telur 1 butir yang dierami secara bergantian
oleh induknya, sangat agresif dalam mempertahankan sarang ketika ada
pengganggu.
Kebiasaan: Mendiami kawasan hutan dan pinggir hutan, terlihat berputar-putar atau meluncur rendah di atas pohon.
Cerita dari Lapangan: Merupakan
jenis yang jarang dijumpai selama pengamatan, tercatat pernah dijumpai
di kawasan perkemunan kelapa sawit, Kalimantan Tengah dan di Hutan
Lindung Bukit Pembarisan Kuningan yang merupakan perbatasan antara
sawah, ladang, kebun, pinus dan hutan alam. Perjumpaan pertama teramati pada 17 Oktober 2012 soaring di atas area perkebunan kelapa sawit, kalimantan tengah saat kondisi hujan gerimis.
Perjumpaan kedua teramati pada 07 Agustus 2013 di Hutan Lindung Pembarisan aktif terbang dan bertengger mulai dari pagi hingga sore hari. Perjumpaan di HL Bukit Pembarisan awalnya dikira Accipiter sp. dari cara terbang dan suara yang dikeluarkan pada saat terbang(cirrrep-cirrrep-cirrrep-cirrrep/pii-pii-pii-pii). Individu remaja saat terbang terlihat mirip Osprey, dengan warna bagian bawah putih dan ada warna gelap pada sayap, serta bercak pada bagian pelipis dekat mata. Memiliki Kebiasaan terbang lebih sering dibanding jenis Spizaetus, dengan gaya terbang rendah diatas pohon hingga dasar diatas persawahan dan ladang, lalu soaring semakin tinggi.Jenis ini sebelumnya sudah pernah terdeteksi, namun karena peralatan yang terbatas pada waktu itu (pertengahan agustus 2012) jenis ini belum teridentifikasi. Selain kemampuan pengamat, peralatan yang memadai dianggap sangat penting untuk identifikasi jenis.
Status Perlindungan: Dilindungi
Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan
Ekosistemnya dan PP 7 dan 8 Tahun 1999. Appendix II CITES.
Sumber:
MacKinnon, J., K. Phillipps, dan B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatra, Jawa,Bali, dan Kalimantan. LIPI/BirdLife-Indonesian Programme, Bogor