01 Februari, 2011

mewujudkan REDD+

MEWUJUDKAN REDD+
download file lengkap di sini
RINGKASAN
Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, dan peningkatan cadangan karbon hutan di negara-negara berawal (REDD+) dari suatu prakarsa global. Sebagian besar pokok perdebatan awal menyangkut kerangka REDD+ global dan bagaimana memasukkan REDD+ ke dalam perjanjian tentang iklim setelah tahun 2012. Namun perdebatan dan fokus tindakan sekarang semakin bergeser ke tingkat nasional dan daerah. Lebih dari empat puluh negara sedang mengembangkan strategi dan kebijakan nasional tentang REDD+, dan ratusan proyek REDD+ telah dimulai di kawasan tropis. Buku ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai proses-proses yang berlangsung di tingkat nasional dan daerah, dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar: Bagaimana negara yang terlibat mengurangi emisi dan meningkatkan cadangan karbon dengan harapan mendapat imbalan lewat mekanisme global? Lembaga, proses, kebijakan, dan proyek baru apa saja yang diperlukan? Apa saja pilihan yang tersedia untuk masing-masing faktor ini, dan bagaimana cara membandingkannya?
Buku ini berupaya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menjajaki seperti apakah wujud REDD+ dalam keempat hal, yaitu: lembaga dan proses untuk menyusun kerangka landasan REDD+, reformasi kebijakan dalam arti luas sehingga memungkinkan pelaksanaan REDD+, kebijakan sektoral untuk mengubah insentif, dan kegiatan percontohan untuk menguji dan mempelajari berbagai pendekatan. Tidak ada satu pun rekomendasi yang berlaku untuk semua. Kebanyakan bab memberikan berbagai pilihan dan membahas keunggulan hasilnya, yaitu dalam hal keefektifan (effectiveness) dari segi iklim, efisiensi (efficiency) dari segi biaya, dan kesetaraan (equity), dan juga manfaat tambahannya, yaitu: keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan lainnya (environment), pengurangan kemiskinan dan penghidupan berkelanjutan, tata kelola dan hak-hak masyarakat, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Untuk memudahkannya, kami menyebut semua kriteria ini 3E+.
Gagasan pokok yang melatari REDD+ ialah memberi imbalan berbasis kinerja, yaitu membayar pemilik dan pengguna hutan untuk mengurangi emisi dan meningkatkan upaya peniadaan emisi. Imbalan jasa lingkungan (PES) memiliki keunggulan sebagai berikut: memberikan insentif langsung yang mengikat kepada pemilik dan pengguna hutan untuk mengelola hutan dengan lebih baik dan mengurangi penebangan kawasan berhutan. PES akan sepenuhnya mengganti rugi pemegang hak atas karbon yang telah yakin bahwa melestarikan hutan lebih menguntungkan daripada pilihan lainnya. Secara sederhana, mereka menjual kredit (hak atas) karbon hutan dan mengurangi usaha beternak sapi, perkebunan kopi atau kakao atau pembuatan arang.
Meskipun berbagai sistem PES untuk pelestarian hutan telah berjalan selama beberapa waktu, terdapat rintangan untuk penerapannya di bidang yang lebih luas. Hak guna lahan dan hak atas karbon harus diberi batasan yang jelas, namun kebanyakan “titik utama” deforestasi dicirikan oleh hak atas lahan yang tidak jelas dan diperebutkan. Karbon hutan harus dipantau secara rutin sesuai luas kawasan yang diberi imbalan. Tatanan kelembagaan masyarakat dan pemerintah yang terlibat perlu ditetapkan untuk mengelola imbalan dan informasi, dan untuk mengaitkan sistem PES daerah dengan sistem REDD+ nasional (atau global). Tingkat rujukan terpercaya juga perlu dimantapkan, yang mencerminkan apa yang mungkin terjadi tanpa penerapan REDD+. PES mungkin merupakan pilihan alat penerapan REDD+ nasional dalam jangka menengah hingga panjang, dan perlu didorong sebagai strategi pelestarian yang terbuka dan adil, namun kebijakan ini kemungkinan tidak akan menjadi alat utama REDD+ di kebanyakan negara dalam jangka pendek.
Dengan demikian, keberhasilan pelaksanaan REDD+ menuntut seperangkat kebijakan yang lebih luas. Kebijakan ini mencakup reformasi kelembagaan dalam hal tata kelola, hak guna lahan, desentralisasi, dan pengelolaan hutan kemasyarakatan. Kebijakan pertanian dapat membatasi kebutuhan akan lahan pertanian baru. Kebijakan energi dapat membatasi tekanan atas degradasi hutan akibat pengambilan kayu bakar sedangkan praktik pembalakan ramah lingkungan dapat membatasi dampak berbahaya dari pemanenan kayu. Penetapan kawasan yang dilindungi1 terbukti berhasil melindungi hutan. Selain itu, walaupun masih jauh dari sempurna, dukungan terhadap kawasan yang dilindungi perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi REDD+ nasional yang menyeluruh.
Untungnya, kita memiliki pengalaman dan hasil penelitian tentang pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut selama beberapa dasawarsa. Tujuan utama buku ini ialah mengumpulkan dan menyajikan pelajaran yang dapat diambil dari segi kebijakan. Tentu saja ada unsur-unsur baru dalam REDD+ dibandingkan dengan upaya pengelolaan hutan di masa silam. Dua unsur terpenting ialah besarnya potensi pendanaan tambahan dan perhatian pada kegiatan yang berbasis kinerja. Namun sebagian besar kebijakan nasional yang direncanakan untuk diterapkan dapat dibandingkan dengan mengukur percobaan di masa lalu yang hasilnya sering kali mengecewakan. Dengan demikian, tantangan utamanya ialah mengembangkan dari pengalaman yang ada tanpa mengulangi kesalahan sebelumnya.





sumber : http://www.cifor.cgiar.org/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar