22 November, 2014

Nyabtu ngreta

Sabtu tlah tiba seolah seperti lagunya Tasya si penyanyi cilik yang sekarang aduhai bohay (istri gw ngintip dan langsung nyubit). Yah beberapa weekend gw hanya lewatin begitu saja di rumah, bahkan sambil gawe depan si LCD tua sambil meratapi lobang di kaki yang makin parah. Paahnya lagi rencana weekend di Kuningan sudah berbulan-bulan gagal karena sok sibuk-sibukan, tapi yasudahlah nanti akan ada waktunya.

Sabtu ini sebelumnya berencana untuk pulkam ke Kuningan, namun tiba-tiba sekejap rencana itu digantikan dengan rencana ke Jatinegara buat nyari prospek souvenir buat usaha kecil-kecilan, sekalian nengokin bapak mertuha. Sampe stasiun setelah parkirin si blacky gw langsung keluar nyari cilok yang pedagangnya entah kemana harus ditungguin. Sambil makan cilok mengamati stasiun yang menarik dengan berbagai aktiviyasnya.

Para pedagang berbaris di sepanjang jalan, cilok, batagor, rujak, soto, mie ayam, bakso, tahu, gorengan, minuman ringan, tisu, masker dan sebagainya sampe powerbank 35rebuan juga ada. Menyenangkan adalah kata yang tepat berada di lokasi dengan aneka dagangan walau cuman liatin. Belum lagi biasanya beraneka warna manusia ada di keramaian ini, ada yang sendirian entah mau kemana, ada sekelompok backpacker dengan ransel dan style nyentrik, ada juga yang memang setiap hari ada untuk triak-triak "ladon ladon ladon, terminal terminal, parung parung parung dan sebagainya". Ini lebih menyenangkan dibanding duduk pegel depan LCD, atau ngadem depan kipas angin.

Sekarang gw lagi di commuter line Bogor-Jakarta Kota, padahal tujuannya Jatinegara. Awalnya memang sudah duduk manis di posisi nyaman tujuan Jatinegara sambil diskusi kok gak ada tempat sampah di dalam commuter (karena setiap mau sampai ada petugas yang bersihin), juga becandain istri gw karena gw duduk di pojok "salah duduk nih di pojok, ntar kalo ada cewek cantik duduk di samping gimana), jehehehe  . . . Lalu kenapa jadi pindah kereta? Ya ini karena ada masalah pada kereta yang memerlukan waktu untuk pengecekan (daripada masalah timbul pas pagi jalan, hayoooo).

Nyaman sih kalau naik kereta lagi bukan jam sibuk, walaupun masih ada yang berdiri dan itu tergantung nasib. Belum lagi di stasiun yang semakin tertata dengan lahan parkir luas, lorong untuk jalan kaki dengan atap, dan bersih tentunya yang paling pentig. Pusat informasi juga mulai jelas terdengar, mulai dari info kereta di jalur man akan kemana dan berangkat jam berapa. Belum lagi di dalam kereta yang terus ada pemberitahuan akan tiba di stasiun mana. Gak adil juga kalo harus diprotes tanpa ada apresiasi atas progres pihak KAI yang makin bagus (walau masih banyak yang perlu dibaiki), karena ini adalah proses. Oh iya mungkin gak semua orang tau kalo ada gerbong khusu wanita (walau cuman 2, yang penting ada dulu), pertama gw tahu tuh tahun 2010 saat mau ke DIKTI, saat itu tiket masih selembar kertas kecil seharga 7000, begitu masuk stasiun langsung cus naik kreta dan ditegur scurity karena duduk di gerbong wanita.

Jam 9:17 di depok baru terdengar "tiba di stasiun depok, persiapkan diri anda yang mau turun dan pastikan tidak ada barang bawaan yang tertinggal" begitulah kira-kira ucap petugas kereta yang terdengar ramah. Sampai di Jatinegara yang sebelumnya harus singgah terlebih dahulu di Manggarai masih lama, dan lumayan buat nutup mata bentar.

Dahhhhh . . . . .!

selengkapnya >>

19 November, 2014

Jika benar subsidi BBM ini akan dialihkan untuk infrastruktur dan kemajuan bangsa (berusaha berpikir positif)




Yah gak sengaja baca status facebook teman dari Kalimantan Barat yang pada intinya mengatakan “kami di pelosok itu gak pernah menikmati harga BBM normal yang ditetapkan pemerintah, terus yang menikmati harga BBM normal hanya di kota dengan fasilitas dan infrastruktur bagus, komunikasi lancar yang kuat mengeluh. Pelit amat dengan 2000, makanya jangan boros dan berhematlah untuk membantu yang gak mampu.”

Saya paham betul apa yang diungkapkan oleh teman saya tersebut, karena walaupun tidak lama, namun pernah merasakan bagaimana hidupnya di pelosok. Yang terbaru saja bulan oktober saya beli bensin eceran dekat POM bensin dengan harga 8.000 rupiah, dan sekitar 40 km dari pom tersebut saya beli bensin eceran seharga 10.000 rupiah.

Yah betul sekali dengan tingginya harga BBM akan diikuti oleh harga-harga lainnya, makan nasi goreng yang harganya di kota 10.000 disana bisa jadi 20.000 loh, beli sayuran yang biasanya 30.000 untuk makan beberapa hari, saya belanja sayuran 34.000 hanya cukup sekali masak untuk beberapa orang. Belum lagi infrastruktur yang masih di bawah standar.

Belum lagi transportasi yang memprihatinkan, hanya ada kendaraan umum antara kecamatan dan sewa motor itu 150.000 per hari bawa sendiri, bensin sendiri, kerusakan ditanggung sendiri, kalo di bogor saya dapat sewa motor 350.000 per bulan. Ini baru berbicara daerah yang bisa di akses oleh jalan darat, dan kalo daerah yang hanya bisa diakses melalui sungai itu biaya hidup sangat-sangat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di kota yang serba ada.

Ayo mari kita coba berangkat ke pelosok menggunakan speedboat yang di carter 2 malam dengan harga 8 juta plus harus beli makanan selama 2 malam untuk kita sendiri, motoris, serta pembantu motoris speedboat. Disana tidak ada signal, listrik harus pake genset pribadi dengan harga bensin yang sangat mahal, belum lagi fasilitas pendidikan, kesehatan, dan akses informasi yang rendah membuat hati merasa sedih.

Jadi apakah sudah tepat subsidi BBM selama ini, jika mereka yang tidak pernah merasakan harga BBM normal karena akses dan infrastruktur yang buruk disebabkan oleh minimnya dana pemerintah untuk membangun negeri ini. Apakah masih merasa subsidi BBM ini sudah adil bagi masyarakat Indonesia yang selalu dituntut untuk nasionalis.
 
Saya akan jauh lebih setuju jika subsidi BBM ini dihentikan dan dananya dipergunakan untuk membangun negeri secara adil dan merata, ya walaupun ini tidak bisa langsung berdampak dalam waktu yang pendek (harus diingat bahwa ini jika benar pemerintah akan menggunakan dana untuk membangun bangsa).

Saya hanya berusaha tidak memikirkan diri sendiri, yang memang benar jika BBM terus di subsidi maka saya akan selalu diuntungkan dengan harga-harga yang relative murah, namun saudara saya di seberang sana yang merasakan mahalnya hidup di Indonesia. Saya juga sangat benci terhadap orang yang seolah menggantungkan hidupnya kepada pemerntah, karena jauh di sana banyak orang yang selalu berusaha untuk mampu  bertaha hidup di tengah kerasnya kekhidupan. 

Saya bukan orang kaya dan berada, juga bukan pekerja keras, namun saya akan selalu berusaha untuk bertahan hidup dengan tanpa merugikan orang lain. Saya jelaskan kembali bahwa saya bukan pendukung kenaikan BBM, namun saya adalah orang yang sangat setuju jika pemerintah akan membangun bangsa dan memerikan keadilan terhadap sudara-saudara saya di seluruh Indonesia.

Dan perlu kalian ketahui bahwa, jika memang kenaikan BBM ini hanya untuk kepentingan pejabat tertentu, maka saya mengutuk keras tindakan kenaikan BBM ini.

selengkapnya >>

17 November, 2014

lama tak bersua

November 2014 ini entah sudah berapa lama aku tak bergaul dengan si belog ini (tinggal lihat postingan sebelumnya sih). Saat mulai menulis, tiba-tiba ada suara "aku mencintai kamu" di telinga (bukan bisikan gaib tapi yah, hahahahahah . .  . ,). Yah, hariku sudah berubah, tak seperti saat terakhir ngepost di belog sebelumnya karena bangun tidur sekarang ada yang bangunin, mau berangkat kerja ada yang buatin sarapan (walaupun baru-baru ini, karena swbwlumnya aku cuman dibangunin buat ngojegin dia ke stasiun subuh-subuh, dan tidur lagi lalu cari sarapan sendiri bahkan kadang gak sarapan), pulang kerja ada yang nungguin dengan menu masakan spesial (ya walaupun sama juga kasusnya kayak sarapan yang baru-baru ini, sebelumnya aku malah yang sering masakin makan malam), tapi kalo tidur ada yang nemenin sih gak banyak berubah. Itulah nasib menjadi suami beristri wanita karir.

Sudah berapa kali weekend ini hanya di rumah dan gak ada waktu seperti yang biasa dilakukan (belanja, jalan, makan di luar, atau maen ke tempat temen). Inilah keseimbangan, dimana ada yang semakin baik, namun ada juga yang memburuk, tapi nikmati saja dan buat hari-hari menjadi spesial (tapi gak pake telor).

Hari ini tadi pagi bangun dan langsung pegang si lcd 14 inci yang selalu menemani dan menghasilkan karya, sementara si do'i masih uring-uringan sakit kepala. Sarapan roti sambil nunggu menu spesial siap niat hati mau berselingkuh dengan istri muda dan menjauhkan mata sejenak dari si lcd, eh ternyata malas juga mandiin selingkuhan yang udah dekil en de kumel, dan akhirnya cuman guling-guling di ranjang (eh kasur ding, maklum belum punya ranjang).

Menu so ayam teriyaki spesial made in do'i sudah siap mengganjal perut yang dari pagi audah demo. Makan bersama merasa menjadi wajib disaat ada di rumah atau lagi bareng (walau kadang do'i masih mengisi piringnya dan gw dah kelar makannya, hihihihi . . . . RW06).

Sekalian mau bayar utang burgernya karena sudah diberi 100 ......., do'i keluar sambil anterin pesanan temennya (ceritanya bisniswoman) sekalian belanja keperluan dapur. Niat kerja dan jadi gak mau ikut, malah cuman bikin ngantuk guling-guling di kasur hingga tetangga ribut nyariin kucingnya yang kabur ke rumah tetangga (ibu s..y yang juga pelihara kucing) dan jadi keluar deh karena penasaran.

Ya, banyak orang memiliki hobi memelihara hewan, contohnya sebelah yang cinta bangeg ama ayam aduannya, dan sebelahnya lagi yang sayang banget sama si kucingnya. Ngobrol sana-sini, nyeletuk si pak Angkatan Laut bertanya "mas rio suka binatang apa?", lalu dengan tegas saya jawab, dulu saya senang plihara burung ama bajing, namun setelah terjerumus di dunia konservasi saya jadi lebih suka lihat binatang di alam, dan sesekali nyempetin waktu untuk mengkampanyekan tidak memelihara satwa liar.

Dengan ngedoknya si Angkatan nyeletuk lagi, "makanya saya gak mau pelihara elang, karena saya takut nanti elangnya dilepasin mas rio, hahahahah . . . . . ".

Tak lama kemudian hujan mulai turun, dan do'i pun dah balik kerumah "hore makan burgerrrrrrrrrrrr . . . ". Pacaran lagi ama lcd sampe malem dan sempet juga pacaran sama alat dapur untuk makan malam sementara do'i ganti peran bersama si lcd.

Do'i nampaknya pencernaannya lagi gak beres, soalnya masa gw diserang bertubi-tubi dengan senjata biologi yang kalo kata bule itu "smel bed" (kalo jokowi ribut dengan english jawanya, gw juga bisa english sunda pisan).

Nulis kerjaan, dengerin musik sambil diskusi, eh dah gak kerasa jam 23 peem aja. Niat on sampe jam 12 malam, eh senjata biologi do'i menyerang terus dan akhirnya niat tidur (tapi kok malah kangen ngebelog yah), kacau nih nanti di kantor bisa ngantuak . . .!

Jam sudah menunjukan pukul 00.07 a em dan ini secara kebetulan di angka paporit (favoritnya orang sunda) gw menentukan pilihan untuk memejamkan mata.

dahhhhhhh gitu aja dulu kangen-kangenan sama si belognya (gw ini memang pelayboy yang banyak pacar dan isterinya), do'i juga dah pules dan mulai berhenti serangannya.

selengkapnya >>