26 Juni, 2013

shp to gpx

CONVERT shp (shapefile) to gpx (GPS Exchange Format)
oleh: Laurio Leonald

shp adalah salah satu format file yang dihasilkan oleh aplikasi GIS seperti ArcView GIS, ArcGIS, dll. data atau file tersebut biasanya didapat dari data yang sudah dientri ke dalam bentuk excel ataupun hasil analisis atau edit oleh aplikasi GIS tersebut. format shp baik itu line atau waypoint biasanya diperlukan untuk dimasukan ke dalam beberapa software seperti MapSource, SMART, dan device seperti GPS.

Pada tulisan ini hanya akan dijelaskan bagaimana cara mengconvert/konversi dari shapefile ke gpx dengan menggunakan softwae DNR GPS. Berikut ini adalah caranya:

1. buka DNR GPS dengan cara klik 2 kali pada file dnrgps
2. setelah DNR GPS berhasil dibuka, maka buka file - load from - file
3. pada jendela load file from, pilih file of type : ESRI shapefile, lalu pilih file yang akan diconvert
4. setelah file kebuka, selanjutnya save data dengan cara klik file - save to - file
5. setelah muncul jendela save to file, pilih save as type : GPX Exchange Format
6. isi file name : dengan nama yang diinginkan, dan pilih folder penyimpanannya
7. setelah diberi nama maka simpan file tersebut dengan cara klik save

Setelah semua tahapan ini semuanya dilakukan maka bisa dicoba file gpx hasil convert sudah berhasil apa belum. mudah-mudahan tulisan yang singkat ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan, bahkan membantu untuk menyelesaikan masalah convert shp ke gpx yang dijumpai.
free download dnrgps

 
Software DNR GPS merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk membuka file ESRI Shape, Google Keyhole Markup Language, GPS Exchange Format, Text (comma-delimited), Text file (tab-delimited), Mapinfo File, Geography Markup Language, dan Geo JawaScript Object Nation. Selain dapat membuka software DNR GPS dapat mengconvert antara file-file tersebut.

Setelah didownload software ini yang merupakan software portable (tidak usah diinstal) mungkin akan menjumpai kendala tidak bisa dijalankan dan minta untuk diinstal .NET 4 Framework, maka dapat mendownload aplikasi tersebut di sini.



selengkapnya >>

21 Juni, 2013

nyanyian untuk alam

Laurio Leonald - Untuk Alam

Berbagai bangsa didalam satu tujuan
Hadir di negeriku
Ragam bahasa, suku bangsa dan budaya
Tetap bersatu

*
Untuk negeriku
Indonesia

**
Susuri sungai jelajahi rimba
Di bawah mentari disirami hujan
Bersama malam diterangi bulan bintang
Diterpa angin malam

***
Tetap semangat
Untuk negeriku
Tetap semangat
Lestarikan alam raya

Menjelang pagi sebelum terbit mentari
Hingga malam hari
Hidup bersama masyarakat desa hutan
Saling berbagi

*
Untuk negeriku
Indonesia

**
Susuri sungai jelajahi rimba
Di bawah mentari disirami hujan
Bersama malam diterangi bulan bintang
Diterpa angin malam

***
Tetap semangat
Untuk negeriku
Tetap semangat
Lestarikan alam raya

pencipta: Laurio Leonald
tahun: 2011
lokasi: Tumbang Kelasin, Murung Raya, Kalimantan Tengah

Untuk mengenang ekspedisi BRINCC (Barito River Inisiative for Conservation and Comunity)

Download Laurio Leonald - Untuk Alam.mp3

selengkapnya >>

18 Juni, 2013

First Record Accipiter badius of Borneo


First Record Accipiter badius of Borneo

Accipiter badius adalah salah satu jenis raptor dari keluarga Accipitridae yang penyebarannya tercatat di India, Cina Selatan, dan Asia Tenggara. Menurut literatur Accipiter badius di Indonesia  merupakan pengunjung musim dingin yang tidak umum di dataran rendah Sumatera, tapi kemungkinan karena jarang dikenali. Accipiter badius berukuran sedang (32 cm), berwarna pucat Jantan: bagian atas abu-abu pucat dengan bulu primer hitam kontras, tenggorokan putih dengan setrip abu-abu samar di tengah tenggorokan, dada dan perut bergaris-garis merah karat dan putih sempit melintang. Betina: seperti jantan, tetapi punggung coklat dan tenggorokan abu-abu. Remaja: coklat abu-abu bersisik merah karat, bagian bawah bergaris-garis coklat, ada setrip hitam di tengah tenggorokan (MacKinnon et all, 1998). Jenis ini cukup sulit untuk dikenali karena memiliki banyak kemiripan dengan jenis Accipiter lainnya.
Accipiter badius perjumpaan pertama
 
Accipiter badius perjumpaan ke-dua
Tulisan ini melaporkan catatan perjumpaan pertama dengan Accipiter badius untuk Kalimantan yang belum diketahui sebagai penetap atau jenis migrasi. Berdasarkan catatan, Accipiter badius teramati sebanyak 2 kali perjumpaan dengan rentang waktu yang berbeda pada lokasi yang sama (08:40 AM, 10 Februari 2013 dan 08:20 AM, 10 Maret 2013, kawasan HCV perkebunan kelapa sawit PT. MSM, Wilmar, Kotawaringin Tiamur, Kalteng).

Catatan pertama (08:40 AM, 10 februari 2013), Accipiter badius di lapangan teramati 1 individu keluar dari kawasan hutan terbang mengusir jenis lain (Accipiter trivirgatus) dan terbang melingkar semakin tinggi ke atas terus menjauh dari kawasan hutan. Catatan kedua (08:20 AM, 10 maret 2013), Accipiter badius teramati 1 individu pada lokasi yang sama keluar dari kawasan hutan terbang menyerang Elanus caerulaeus yang merupakan jenis raptor yang dominan di lokasi tersebut. Seperti pada perjumpaan pertama jenis ini terbang melingkar semakin tinggi ke atas dan menjauh dari kawasan.
  
Selain Accipiter badius pada kawasan yang memiliki luasan + 20 ha ini tercatat perjumpaan dengan jenis raptor yang menetap pada kawasan tersebut lainnya, seperti Elanus caeruleus, Spilornis cheela, Accipiter trivirgatus, Accipiter gularis, dan Strix leptogrammica. Kawasan ini memiliki kepadatan yang cukup tinggi, karena pada kawasan berhutan yang tidak jauh dari lokasi teramati perjumpaan dengan jenis lainnya, seperti Spizaetus cirrhatus, Pernis ptilorhynchus, Haliastur Indus, Aviceda jerdoni, Microhierax fringillarius, Hieraaetus kienerii, Macheiramphus alcinus. Padatnya populasi pada kawasan ini sangat mungkin dikarenakan semakin menyempitnya habitat akibat tingginya tingkat defoestasi, namun selain itu bisa juga padatnya pada kawasan terjadi karena luasnya areal berburu dan melimpahnya pakan yang tersedia.

Perjumpaan pertama Accipiter badius ini sangat menjadi temuan yang menarik, karena selain merupakan perjumpaan di Kalimantan, jenis ini sangat jarang tercatat masuk ke Indonesia. Berdasarkan hasil pengamatan maka perlu adanya penelitian lanjutan terhadap Accipiter badius untuk mengetahui populasi dan kemungkinan bahwa jenis ini merupakan jenis penetap Kalimantan.

Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada Michal Zrust selaku project manager Biodiversity and Oil Palm dari ZSL Indonesia beserta teman-teman ZSL Indonesia di lapangan Lili Aris, Achmad S Suhada, Edwin Hermawan, dan Sugeng Wahyudi yang mendukung dan menemani penulis saat pengamatan di lapangan. Terimakasih juga kepada Surya Purnama dan Forendadi dari departemen HCV wilmar yang menjadi teman diskusi. Selain itu terimakasih ini saya ucapkan untuk Asman Adi Purwanto dari RAIN atas bantuan indetifikasi dan motivasinya.

Refrences
MacKinnon, J., K. Phillips & B. van Balen. 1998. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Puslitbang Biologi LIPI and BirdLife International Indonesia Programme, Jakarta. [In Indonesian]
Agus Nurza, Mulyawati Dwi, Husnurrizal, et all. 2009. First Breeding Record of Shikra Accipiter badius in Indonesia. Kukila 14.
selengkapnya >>

16 Juni, 2013

Pelepasliaran Owa Jawa

Pelepasliaran Owa Jawa (Hylobates moloch) di Kawasan Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
15, Juni 2013

Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan membuka pintu kandang
Hylobates moloch adalah satwa endemik Pulau Jawa yang populasinya sudah tidak terlalu banyak lagi, hanya 4000-4500 individu (Nijman, 2004 dalam IUCN). spesies ini hanya terdapat di beberapa kawasan yang terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah sepeti Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Hutan Lindung Gunung Papandayan, Hutan Lindung Gunung Slamet, dan beberapa kawasan lainnya. Pada tahun 2008 menurut IUCN Hylobates moloch masuk ke dalam daftar satwa yang memiliki status endangered (terancam punah).

Pada 15 Juni 2013 Yayasan Owa Jawa melepasliarkan sepasang Hylobates moloch yang dilepaskan langsung oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di kawasan Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar, Bandung. Acara pelepasliaran dihadiri olaeh banyak pihak yaitu Menteri Kehutanan, Dirjen PHKA, Pemerintah Kabupaten, Kedutaan Amerika, Perhutani, Yayasan Owa Jawa, ZSL Indonesia, International Animal Rescue, teman-teman media, dan partisipan lainnya. Sepasang Hylobates moloch yang diberi nama Sadewa (jantan) dan Kiki (Betina) yang dilepas ini telah direhabilitasi di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa di Resort Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango selama 5 tahun yang sebelumnya merupakan peliharaan masyarakat yang diserahkan. 

Sadewa dan Kiki, masih di kandang

Sebelum dilepasliarkan Hylobates moloch melalui rangkaian rehabilitasi seperti kesehatan, sosialisasi, dan yang terakhir adalah habituasi dengan membiasakan hidup di tempat berhutan. Harus juga dipastikan bahwa mereka akan dapat mencari makan sendiri dan bertahan hidup di alam liar, karena sebelumnya sudah terbiasa dengan bantuan manusia. Sadewa dan Kiki dibawa sekitar 15 hari sebelum dilepaskan dengan disimpan dikandang habituasi yang dilakukan pengangkutan dari Resort Bodogol pada 29 Mei 2013. 



 
Sadewa Setelah dilepas dari kandang
Pada saat sambutan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan berharap Hylobates moloch yang dilepasliarkan pada kawasan Gunung Puntang tidak hanya satu pasang saja, karena akan kesepian mungkin bisa 2 atau 3 pasang bisa menyusul untuk dilepasliarkan. Selain itu harapan lainnya pelepasliaran yang dilakukan ini menandai perubahan budaya masyarakat Indonesia untuk tidak lagi mengejar, memburu, apalagi membunuh satwa-satwa, terutama yang terancam punah seperti Owa Jawa, Orangutan, Gajah, Harimau, Badak dan lain-lain. Sambil menunjukan foto Hylobates moloch yang matanya penuh harap sambil bercanda Zulkifli Hasan mengatakan tuh lihat "tolong manusia jangan kejem-kejem sama kami".





Kiki Setelah dilepas dari kandang
Salah satu alasan kenapa Sadewa dan Kiki dilepaskan di Gunung Puntang karena pada kawasan ini sudah dipastikan adanya tumbuhan pakan dan sebelumnya pernah diidentifikasi keberadaannya di kawasan Gunung Puntang pada tahun 1990-an, walaupun pada saat ini tidak ada satupun yang pernah dijumpai lagi keberadaannya. Dengan adanya pelepasliaran di Gunung Puntang harapannya dapat berkembang biak dan menambah populasinya, sehingga terhindar dari kepunahan.

Setelah dilepasliarkan Sadewa dan Kiki akan dimonitoring perkembangannya selama beberapa bulan untuk memastikan mereka dapat bertahan hidup dan kesehatannya terjaga. selain untuk memastikan dapat bertahan hidup, tujuan dari monitoring prilaku dan aktivitas harian ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai Hylobates moloch secara keilmuan.




Sadewa sudah mulai bergelantungan
Peta area pengamatan Owa Jawa
Kawasan Hutan Gunung Puntang

selengkapnya >>

09 Juni, 2013

primate

PRIMATE
masih dalam pengerjaan, jadi maklum kalo belum maksimal
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk memperbesar"
Hylobates albibarbis
Hylobates syndactilus
Pongo pygmaeus


Trachypithecus auratus
Presbytis cristata
Presbytis melalophos

Presbytis rubicunda
Macaca fascicularis
Hylobates moloch



selengkapnya >>

birds

BIRDS
masih dalam pengerjaan, jadi maklum kalo belum maksimal
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk memperbesar"
Udang Punggung Merah
Raja Udang Meninting
Cekakak Belukar


Bentet Kelabu
Kadalan
Kirik-kirik Biru


Apung Tanah
Kicuit Kerbau
Kicuit


Belibis
Kokoakan Laut
Kowak Malam Kelabu
selengkapnya >>

08 Juni, 2013

raptors

RAPTOR
masih dalam pengerjaan, jadi maklum kalo belum maksimal
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk membuka link"
Elanus caeruleus
Spilornis cheela
Accipiter trivirgatus


Accipiter gularis
Accipiter badius
Spizaetus cirrhatus


Spizaetus bartelsi
Pernis ptilorhynchus
Aviceda jerdoni




Hieraaetus kienerii
Ictinaetus malayensis
Haliastur indus



Microhierax fringillarius
Strix leptogrammica
Falco moluccensis
selengkapnya >>

Galery riobelajar photography

riobelajar photography
masih dalam pengerjaan, jadi maklum kalo belum maksimal
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk memperbesar"
RAPTOR
BIRD
MAMMAL


PRIMATE
SMALL MAMMAL
LEPIDOPTERA


INSECTS
ODONATA
SPIDER


REPTILE
Kalimantan
Kalimantan
selengkapnya >>