23 September, 2013

Saving GARUDA Program, Car Free Day Kuningan



Saving GARUDA Program Campaign
Car Free Day Kuningan
Oleh: Laurio Leonald
Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu dari family Accipitridae yang merupakan endemik Pulau Jawa yang sudah terancam punah. Di Indonesia Elang Jawa dilindungi oleh urat Keputusan Nomor 421/Kpts./Um/8/81970 yang dikeluarkan pada tanggal 26 Agustus 1970, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, dan Keputusan Presiden No. 4 tahun 1993 pada tanggal 10 Januari tahun 1993 yang menetapkan sebagai burung nasional dan lambang spesies langka. Pada perlindungan tingkat internasional, elang jawa termasuk dalam daftar CITES lampiran II, yang melarang seluruh perdagangan internasional dan masuk kedalam kategori terancam punah berdasarkan IUCN. Elang jawa merupakan salah satu satwa pemangsa puncak (top predator) dalam siklus rantai makanan suatu ekosistem hutan di Jawa, sehingga berperan penting dalam mengatur populasi satwa liar lain yang menjadi mangsanya.


Taman Nasional Gunung Ciremai merupakan habitat Elang Jawa yang masih tersisa, di Kabupaten Kuningan Elang Jawa juga terdapat di Hutan Lindung Bukit Pembarisan dan beberapa Hutan Desa sekitar kawasan TNGC. Minimnya  pengetahuan tentang pentingnya perlindungan terhadap Elang Jawa dan jenis raptor lainnya dikhawatirkan menjadi salah satu alasan masih adanya kegiatan perburuan dan perdagangan. Melihat dari pentingnya pelestarian Elang Jawa dan peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap satwa liar khususnya Elang Jawa, maka kegiatan kampanye merupakan salah satu kegiatan yang penting untuk dilakukan di Kabupaten Kuningan.

Balai Taman Naional Gunung Ciremai bersama Raptor Indonesia hadir di acara Car Free Day jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan untuk mengkampanyekan “Saving GARUDA Program” untuk mendukung pelestarian Elang Jawa (22/09/2013).

Kampanye “saving GARUDA program” yang diselenggarakan didukung oleh beberapa organisasi dari Cirebon, Kuningan dan Sumedang. Berikut merupakan organisasi yang berpartisipasi dalam kegiatan, yaitu MAPALA GUNATI, KHYBER PASS, SISMAKALA, SMK Kehutanan Sumedang dan RIMBAWAN UNIKU yang juga merupakan volunteer dalam kegiatan habituasi Elang Jawa di Lambosir, Taman Nasional Gunung Ciremai. Selain itu kegiatan ini dimeriahkan juga oleh panampilan music reggae dari beberapa band di Kuningan yang diselenggarakan oleh My Music Studio.

Kegiatan kampanye ini diisi dengan pameran foto raptor dari berbagai daerah dan beberapa buku untuk mengenalkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis elang yang cukup tinggi dan juga merupakan lintasan raptor saat bermigrasi, dengan harapan foto-foto tersebut dapat merangsang peserta Car Free Day untuk dapat mengenal lebih jauh tentang raptor. Pengumpulan informasi tentang pengetahuan masyarakat terhadap Elang Jawa dilakukan melalui interview terhadap pengunjung yang datang untuk Car Free Day untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap Elang Jawa. ada juga pembagian sticker, pin, leaflet, pengumpulan tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan ini.



Kegiatan kampanye ini tidak hanya dilakukan satu kali saja namun akan dilaksanakan pada minggu-minggu berikutnya dan akan juga menyelenggarakan mewarnai dan menggambar bagi anak-anak kecil yang hadir. Apabila untuk yang pertama dimeriahkan oleh penampilan band, minggu selanjutnya direncanakan akan dimeriahkan dengan adanya aksi theatrical yang dapat memberikan pesan moral untuk pelestarian Elang Jawa.

Belum semua pengunjung memberikan respon positif, hal ini karena kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan, dan belum terlalu banyaknya orang mengetahui tentang Elang Jawa. Tapi Respon positif mulai ada dari masyarakat yang bersedia mampir dan ikut menandatangani kain untuk dukungan upaya pelestarian Elang Jawa. Selain itu anak-anak kecil banyak juga yang menikmati buku yang disediakan untuk dibaca, dan mencoba menggunakan binocular. Kegiatan minggu depan dan minggu-minggu selanjutnya akan diupayakan memberikan hal lain yang berbeda yang dapat menarik perhatian masyarakat untuk mengenal leih jauh tentang program yang diselenggarakan untuk pelestarian Elang Jawa.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Mufti dari pihak TNGC mengatakan “kegiatan ini selain bertujuan mengkampanyekan upaya penyelamatan Elang Jawa juga menjadi moment untuk menggalang partisipasi dari berbagai pihak sebagai mitra kerja volunteer di TNGC. Sebagai langkah awal kegiatan untuk keanekaragaman hayati di masa depan, kegiatan ini tak akan hanya berhenti di Elang Jawa, tapi sebagai kegiatan pembelajaran yang nantinya juga akan dilakukan.”
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa Elang Jawa “GARUDA” merupakan satwa yang dilindungi dan penting untuk dilestarikan.





selengkapnya >>

13 September, 2013

Falco moluccensis

ALAP-ALAP SAPI Falco moluccensis Bonaparte,1850
Spotted Kestrel
Hasil Dokumentasi di Lapangan "klik gambar untuk memperbesar"
Jawa
Deskripsi: Berukuran kecil (30 cm), duduk tegak, berwarna coklat gelap. Jantan: mahkota dan tubuh bagian atas coklat kekuningan, bergaris dan berbintik hitam tebal, tubuh bagian bawah kuning suram, bercoret hitam tebal. Ekornya abu kebiruan dengan ujung putih dan garis lebar hitam pada bagian subterminal. Betina: ukuran lebih besar, dengan garis tebal pada ekor. Remaja: mirip dewasa, tetapi berwarna lebih pucat dan ekor coklat dengan garis-garis gelap.


Iris coklat, paruh abu-abu kebiruan dengan ujung hitam dan sera kuning, tungkai dan kaki kuning.
Suara: Burung muda berteriak berulang-ulang:"kiri kiri kiri" ketika bertemu induknya, atau "kekekeke"' yang kencang ketika panas hati. Suara tersebut juga dikeluarkan burung dewasa untuk menunjukkan wilayah teritorialnya.
Penyebaran global: Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.
Penyebaran lokal dan status: Satu kali tercatat di Kalimantan selatan. Penghuni tetap di habitat terbuka pada semua ketinggian di Jawa dan Bali.
Pakan: Mamalia kecil, kadal, burung kecil dan serangga yang berukuran besar. Seringkali terlihat membawa mangsanya sambil terbang.
Berbiak : Tidak banyak informasi mengenai musim berbiak untuk jenis ini, namun mulai membangun sarang pada bulan maret atau April sampai September dan Oktober. Sarang terbuat dari ranting – ranting di pepohonan atau tebing, kadang di gedung perkotaan namun catatanya sangat sedikit sekali. 
Jumlah telur bisa mencapai 4 butir.
Kebiasaan: Penerbang yang sangat anggun, terbang melingkar perlahan, atau melayang-layang diam sambil mengepakkan sayap ketika berburu. Menukik ketika memangsa, sering mengambil mangsa dari atas tanah. Bertengger pada tiang atau di atas pohon mati. Lebih menyukai daerah terbuka
Cerita dari Lapangan: Merupakan jenis yang dapat dijumpai di berbagai tipe habitat, pernah dijumpai di areal pertanian, pemukiman, hutan pinus, semak. Waktu kecil jenis ini sering terlihat dari rumah terbang diatas aeal pertanian dan tanaman bambu terbang melingkar ke atas, dan tiba-tiba menukik dengan cepat. 
Pada tahun 2011 pernah dijumpai di hutan pinus Karang Sari Taman Nasional Gunung Ciremai (waktu itu awal penulis terjun di dunia birding) teramati berpasangan dan bersarang di pohon yang tidak dikatehui jenisnya tepat di tepi hutan pinus.
Pertengahan 2013 jenis ini sempat dijumpai di kawasan permukiman/perkotaan (taman dahlia depan kantor Pemda Kabupaten Kuningan). Teramati sesekali terbang melingkar dan menukik. tidak jauh dari perjumpaan tersebut Alap-alap Sapi ini juga terlihat terbang melingkar mengawasi ke bawah di atas lahan pertanian (sawah) di daerah Ciperna, Kota Cirebon.
Masih penasaran dengan Alap-alap sapi, karena penulis belum pernah mendapatkan dokumentasinya pada tanggal 10 Oktober 2013 pada saat memantau pohon pinus yang berdiri di tengah lahan terbuka, karena menurut beberapa orang di pohon pinus tersebut sempat teramati Elang Brontok (Nisaetus/Spizaetus cirrhatus) sedang bersarang. Hanya terlihat sarang yang mungkin masih dibangun, karena ukurannya yang masih kecil, malah muncul Alap-alap Sapi terbang melingkar melingkari pohon pinus tersebut lalu terbang ke arah atas menuju daerah yang ditutupi pohon pinus.
Sempat panik saat pertama terlihat, untungnya segera tersadar untuk segera mengambil kamera untuk mendokumentasikan perjumpaan ini, alhasil dapat satu foto yang cukup untuk identifikaksi. 
Berdasarkan pengamatan, Alap-alap Sapi (Falco moluccensis) memanfaatkan angin yang cukup besar untuk terbang ke atas, dan akan menyusuri dinding tebing untuk menghindari hembusan angin yang terlalu kencang.
Status Perlindungan: Dilindungi Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya dan PP 7 dan 8 Tahun 1999. Appendix II CITES.

 

Sumber:  
MacKinnon, J., K. Phillipps, dan B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatra, Jawa,Bali, dan Kalimantan. LIPI/BirdLife-Indonesian Programme, Bogor


 
selengkapnya >>