19 November, 2014

Jika benar subsidi BBM ini akan dialihkan untuk infrastruktur dan kemajuan bangsa (berusaha berpikir positif)




Yah gak sengaja baca status facebook teman dari Kalimantan Barat yang pada intinya mengatakan “kami di pelosok itu gak pernah menikmati harga BBM normal yang ditetapkan pemerintah, terus yang menikmati harga BBM normal hanya di kota dengan fasilitas dan infrastruktur bagus, komunikasi lancar yang kuat mengeluh. Pelit amat dengan 2000, makanya jangan boros dan berhematlah untuk membantu yang gak mampu.”

Saya paham betul apa yang diungkapkan oleh teman saya tersebut, karena walaupun tidak lama, namun pernah merasakan bagaimana hidupnya di pelosok. Yang terbaru saja bulan oktober saya beli bensin eceran dekat POM bensin dengan harga 8.000 rupiah, dan sekitar 40 km dari pom tersebut saya beli bensin eceran seharga 10.000 rupiah.

Yah betul sekali dengan tingginya harga BBM akan diikuti oleh harga-harga lainnya, makan nasi goreng yang harganya di kota 10.000 disana bisa jadi 20.000 loh, beli sayuran yang biasanya 30.000 untuk makan beberapa hari, saya belanja sayuran 34.000 hanya cukup sekali masak untuk beberapa orang. Belum lagi infrastruktur yang masih di bawah standar.

Belum lagi transportasi yang memprihatinkan, hanya ada kendaraan umum antara kecamatan dan sewa motor itu 150.000 per hari bawa sendiri, bensin sendiri, kerusakan ditanggung sendiri, kalo di bogor saya dapat sewa motor 350.000 per bulan. Ini baru berbicara daerah yang bisa di akses oleh jalan darat, dan kalo daerah yang hanya bisa diakses melalui sungai itu biaya hidup sangat-sangat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di kota yang serba ada.

Ayo mari kita coba berangkat ke pelosok menggunakan speedboat yang di carter 2 malam dengan harga 8 juta plus harus beli makanan selama 2 malam untuk kita sendiri, motoris, serta pembantu motoris speedboat. Disana tidak ada signal, listrik harus pake genset pribadi dengan harga bensin yang sangat mahal, belum lagi fasilitas pendidikan, kesehatan, dan akses informasi yang rendah membuat hati merasa sedih.

Jadi apakah sudah tepat subsidi BBM selama ini, jika mereka yang tidak pernah merasakan harga BBM normal karena akses dan infrastruktur yang buruk disebabkan oleh minimnya dana pemerintah untuk membangun negeri ini. Apakah masih merasa subsidi BBM ini sudah adil bagi masyarakat Indonesia yang selalu dituntut untuk nasionalis.
 
Saya akan jauh lebih setuju jika subsidi BBM ini dihentikan dan dananya dipergunakan untuk membangun negeri secara adil dan merata, ya walaupun ini tidak bisa langsung berdampak dalam waktu yang pendek (harus diingat bahwa ini jika benar pemerintah akan menggunakan dana untuk membangun bangsa).

Saya hanya berusaha tidak memikirkan diri sendiri, yang memang benar jika BBM terus di subsidi maka saya akan selalu diuntungkan dengan harga-harga yang relative murah, namun saudara saya di seberang sana yang merasakan mahalnya hidup di Indonesia. Saya juga sangat benci terhadap orang yang seolah menggantungkan hidupnya kepada pemerntah, karena jauh di sana banyak orang yang selalu berusaha untuk mampu  bertaha hidup di tengah kerasnya kekhidupan. 

Saya bukan orang kaya dan berada, juga bukan pekerja keras, namun saya akan selalu berusaha untuk bertahan hidup dengan tanpa merugikan orang lain. Saya jelaskan kembali bahwa saya bukan pendukung kenaikan BBM, namun saya adalah orang yang sangat setuju jika pemerintah akan membangun bangsa dan memerikan keadilan terhadap sudara-saudara saya di seluruh Indonesia.

Dan perlu kalian ketahui bahwa, jika memang kenaikan BBM ini hanya untuk kepentingan pejabat tertentu, maka saya mengutuk keras tindakan kenaikan BBM ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar