10 Oktober, 2010

pembuatan herbarium


PEMBUATAN HERBARIUM
Dalam kesempatan kali ini saya ingin menceritakan proses pembuatan herbarium yang baru saya pelajari sore tadi (29/11). Acara ini merupakan rangkaian dari EXACT (Experiment in Action) 2007 yang diadakan oleh KIR SMA Negeri 1 Bogor. Acaranya seru banget dan bermanfaat, karena diisi langsung oleh ahli dan ilmuwandari Kebun Raya Bogor, dan banyak hal yang tidak kami ketahui sebelumnya. Ditambah lagi dengan alat yang canggih dan laboratorium istimewa, membuat mata selalu berbinar dan penasaran apa fungsinya. Langsung aja deh ke proses pembuatan herbariumnya.
Perlu diketahui bahwa herbarium merupakan tempat penyimpanan tanaman yang telah diawetkan dengan cara dikeringkan. Herbarium ini berguna sebagai data asli dari suatu tanaman yang telah diidentifikasi. Bisa disebut museumnya tanaman lah. Tapi tanaman-tanaman yang terdapat di herbarium tidak selalu kuno dan selalu up to date.
Pertama, tentunya kita perlu alat dan bahan. Semua ini terdiri dari:
1. Gunting stek
2. Etiket gantung
3. Kertas Koran
4. Sasak kayu
5. Kantong plastik
6. Alkohol 70%
Proses pertama kali pembuatan herbarium adalah pengambilan. Syarat-syarat dalam pengambilan tanaman adalah tanaman harus lengkap. Lengkap disini adalah terdiri atas daun, bunga, dan buah. Perlu diketahui bahwa bunga lebih penting daripada buah, karena dari bunga kita dapat mengidentifikasi lebih baik didukung dengan data seperti jumlah mahkota, adanya putik/benangsari, dll.
Dalam pengambilan terdapat pula yang disebut antisipasi. Antisipasi dilakukan ketika tanaman yang ingin kita identifikasi tidak terdapat bunga atau buah. Maka yang kita lakukan adalah mengambil batang tanaman tersebut (ingat! Pemotongan batang berbentuk miring untuk menghindari penimbunan air hujan dan embun). dari pucuk daun kita dapat mengetahui rumpun atau suku dari tanaman tersebut.
Setelah bahan diambil, kita memasang etiket gantung (kertas bertali) untuk memberi data pada tanaman yang terdiri atas: nama (insial), tanggal pengambilan, dan nomor. Kita mengisi nomor pada data tersebut berurutan apabila dilakukan di hari, tanggal dan bulan yang sama. Apabila kita melakukan pengambilan keesokan harinya, makan no. mulai diurut dari awal kembali.

Proses kedua yaitu pengovenan.
Sebelum kita meng-oven daun/data yang kita miliki, kita harus  mempersiapkan alat-alat proses pengovenan yaitu sasak kayu yang teridi atas kayu, lembaran logam, kardus dan kertas koran. Perlu diketahui bahwa alur-alur yang terdapat dalam kertas kardus harus sama dengan alur pada lembaran logam. Kemudian bahan-bahan tersebut disusun sedemikian rupa dan kita taruh daun yang kita miliki di dalam kertas koran. Setelah ditumpuk kembali, sasak kayu kemudian diikat dengan tali tahan panas. Dalam satu sasak bisa memuat lebih dari satu spesimen atau data. Suhu dalam pengovenan mencapai 70 derajat Celcius dan dilakukan selama 2 hari. Apabila daun yang diidentifikasi besar dan tebal, maka bisa mencapai 3 hari. Ingat! Ketinggian alas permukaan koran ketika sudah ditumpuk harus sama antara daun dan batang untuk menghindari ketidaksamaan waktu pengeringan.
Setelah itu, kita masuk pada proses pengeplakan. Setelah daun kering, maka seluruh daun tersebut ditaruh di atas kertas dan ujung-ujung daun ditempel dengan selotip. Pada batang digunakan benang untuk mengikat agar tidak jatuh. Setelah proses pengeplakan selesai maka disimpan di lemari yang didesain khusus anti-serangga. Suhu seharusnya adalah 20 derajat Celcius, dengan tidak menutup kemungkinan bahwa suhu diluar itu tidak apa-apa. Untuk spesimen dalam freezer, biasanya digunakan suhu 20 derajat Celcius.
Dalam lemari herbarium ini, banyak ditemukan tanaman-tanamn yang diawetkan sejak tahun 1800 hingga 1900-an. Pada masa itu pengawetan dilakukan dengan menggunakan cairan kimia sublimat. Namun sekarang telah dilarang penggunaanya karena dianggap berbahaya.
Sekian ulasan saya tentang herbarium, semoga dapat menambah wawasan kita semua tentang botani yang harus kita lindungi hingga akhir zaman.

MEMBUAT INSEKTARIUM
insectarium adalah sampel jenis serangga hidup yang ada di kebun binatang, atau museum atau pameran tinggal serangga. Insectariums sering menampilkan berbagai jenis serangga dan arthropoda yang mirip, seperti laba-laba, kumbang, kecoa, semut, lebah, kaki seribu, kelabang, jangkrik, belalang, serangga tongkat, kalajengking dan Belalang sembah alat2 dan bahan2nya mungkin belum tercantum, tetapi mungkin ini sangat membantu.
1.      Tangkaplah serangga dengan menggunakan jaring serangga. Hati-hati terhadap serangga yang berbahaya.
2.      Matikan serangga dengan jalan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang telah diberi kapas yang dibasahi kloroform.
3.      Serangga yang sudah mati dimasukkan ke dalam kantong atau stoples tersendiri. Kupu2 dan capung dimasukkan ke dalam amplop dengan hati2 agar sayapnya tidak patah.
4.      Suntiklah badan bagian belakang serangga dengan formalin 5%. Sapulah  (dengan kuas) bagian tubuh luar dengan formalin 5%.
5.      Sebelum mengering, tusuk bagian dada serangga dengan jarum pentul.
6.      Pengeringan cukup dilakukan di dalam ruangan pada suhu kamar. Tancapkan jarum pentul pada plastik atau karet busa.
7.      Untuk belalang, rentangkan salah satu sayap ke arah luar. Untuk kupu-kupu, sayapnya direntangkan pada papan perentang atau kertas tebal sehingga tampak indah. Begitu juga capung.
8.      Setelah kering, serangga dimasukkan ke dalam kotak insektarium (dari karton atau kayu). Di dalamnya juga dimasukkan kapur barus (kamper).
9.      Beri label (di sisi luar kotak) yang memuat catatan khusus lainnya.

Awetan kering tumbuhan disebut herbarium, sedang awetan insekta disebut insektarium. Hewan vertebrata dapat diawetkan dengan membuang otot dagingnya sehingga tinggal kilit dan rangkanya. Selanjutnya hewan di isi dan dibentuk sesuai aslinya. Awetan demikian disebut taksidermi.

1. Cara Membuat Herbarium (Awetan Kering Tumbuhan)
a)        Jika memungkinkan, kumpulkan tumbuhan secara lengkap, yaitu akar, batang, daun dan bunga. Tubuhan berukuran kecil dapat diambil seluruhnya secara lengkap. Tumbuhan beukuran besar cukup diambil sebagian saja, terutama ranting, daun, dan jika ada, bunganya.
b)        Semprotlah dengan alcohol 70% untuk mencegah pembusukan oleh bakteri dan jamur.
c)        Sediakan beberapa kertas Koran ukuran misalnya 32 × 48 cm.
d)       Atur dan letakkan bagian tumbuhan diatas Koran. Daun hendaknya menghadap ke atas dan sebagian menghadap ke bawah terhadap kertas Koran tersebut. Agar posisinya baik, dapat dibantu dengan mengikat tangkai/ranting dengan benang yang dijahitkan ke kertas membentuk ikatan.
e)        Tutup lagi dengan Koran. Deikian seterusnya hingga kalian dapat membuat beberapa lembar.
f)         Terakhir tutup lagi dengan Koran, lalu jepit kuat-kuat dengan kayu/bamboo, ikat dengan tali. Hasil ini disebut specimen.
g)        Simpan selama 1-2 minggu ditempat kering dan tidak lembab.

Catatan:
a)        Di udara lembab, specimen dijemur dibawah terik matahari atau didekat api.
b)        Secara periodic gantilah kertas Koran yang lembab/basah dengan yang kering beberapa kali. Kertas yang lembab dapat dijemur untuk digunakan beberapa kali.
c)        Jangan menjemur dengan membuka kertas Koran yang menutupinya. Menjemur specimen tidak boleh terlalu lama sebab proses pengeringan yang terlalu cepat hasilnya kurang baik.
d)       Jika telah kering, ambil specimen tumbuhan dan tempelkan di atas kertas karton ukuran32 × 48 cm. Caranya harus pelan-pelan dan hati-hati. Bagian-bagian tertentu dapat diisolasi agar dapat melekat pada kertas herbarium.
e)        Buatlah tabel yang memuat: nama kolektor, nomor koleksi (jika banyak), tanggal, nama specimen (ilmiah, daerah), nama suku/famili dan catatan khusus tentang bunga, buah atau ciri lainnya.
f)         Tutup herbarium dengan plastic.
g)        Jika disimpan, tumpukan herbarium harus diberi kapur barus (kamfer).

B. Cara Membuat Insektarium
a)        Tangkaplah serangga misal(kupu-kupu atau capung) dengan menggunakan jaring serangga.  Hati-hati terhadap serangga berbahaya.
b)        Matikan serangga dengan jalan memasukkan kedalam kantong plastic yang telah diberi  kapas yang dibasahi kloroform.
c)        Serangga yang sudah mati dimasukkan kedalam kantong tersendiri/stoples. Kupu-kupu dan  capung dimasukkan kedalam amplop dengan hati-hati agar sayapnya tidak patah.
d)       Suntiklah tubuh/badan serangga dengan formalin 5%. Sapulah bagian tubuh luar dengan formalin 5%.
e)        Sebelum mongering, tusuk bagian dada serangga dengan jarum pentul.
f)         Jika menggunakan belalang, rentangkan salah satu sayap kearah luar. Jika menggunakan kupu-kupu, sayapnya direntangkan pada papan perentang atau kertas tebal, sehingga tampak indah. Demikian pula jika menggunakan capung.
g)        Pengering cukup dilakukan di dalam ruangan pada suhu kamar. Tancapkan jarum pentul  pada busa.
h)        Setelah kering, serangga dimasukkan ke dalam kotak insektarium (dari karton atau kayu). Ke dalam kotak insektarium dimasukkan kapur barus (kamfer).
i)          Beri label (tempelkan di sisi luar kotak) yang memuat: nama kolektor, nomor koleksi, tanggal pembuatan, nama serangga (ilmiah, daerah) nama suku/familia dan catatan khusus lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar