14 Juli, 2009

kutu lak

ARTIKEL BHHBK

BUDI DAYA KUTU LAK (Leccifer lacca, Kerr)

Oleh : Laurio Leonald

2006071448

Hasil budidaya kutu lak dapat diperoleh seedlak yang berguna untuk pembuatan pernis, industri listrik, perekat, plitur, dan kabel juga seedlak dipergunakan untuk bahan pewarna (Edible dye) pewarna minuman ringan dan makanan dapat juga dipergunakan sebagai bahan campuran untuk lapisan luar pada cokelat. Selain itu, air limbah dari pengolahan lak cabang banyak mengandung bahan pewarna yang utamanya adalah asam lakaik yang berguna untuk proses penyamakan wol, sutra, atau kulit dan juga dapat digunakan untuk penetralisir air kolam pada budidaya ikan lele.Kebutuhan lak dunia mencapai 9000 ton dengan India sebagai pemasok utama sebesar 50% (4500 ton), di Indonesia komoditi lak belum diproduksi secara maksimal.

Kesambi dengan nama latin (Schleichera oleosa, Merr) termasuk salah satu tumbuhan hutan yang beradapsi lokal, bermanfaat serbaguna (multi purpose) dan bernilai ekonomis dan sangat potensial. Buah pohon kesambi digemari oleh manusia, binatang dan burung. Oleh karena itu pohon kesambi dapat menjadi alternatif tanaman unggulan di dalam dan di luar kawasan hutan. Pada sisi lain pohon kesambi di Sulawesi Selatan mempunyai sejarah tentang manfaat penting kesambi pada masa kerjaan Sultan Hasanuddin. Dengan demikian pohon kesambi perlu dikembangkan karena selain serba guna, bersejarah, juga supaya tidak menjadi tanaman langka.

Di Indonesia ditemukan 2 (dua) jenis kesambi, yaitu kesambi kerikil dan kesambi kebo/kerbau. Ciri khas perbedaannya terletak pada daun dan kulit batang. Jenis kerikil mempunyai daun yang lebih kecil dan memanjang. Bentuk percabangan liar, dan kulitnya tipis dibandingkan dengan jenis kebo. Sedangkan kesambi jenis kerbau memiliki daun yang melebar pada ujungnya dan kulit kayu yang lebih tebal. Bentuk percabangan teratur dan tegak lurus ke atas. Tumbuhan ini tersebar di seluruh Asia Tenggara dan di Indonesia dapat ditemukan pada ketinggian nol s.d. 1200 m dari permukaan laut. Salah satu indikator pertumbuhan kesambi adalah jati. Pada wilayah yang ditumbuhi jati secara liar biasanya diikuti pula pertumbuhan kesambi. Artinya dimana ada jati yang tumbuh liar biasanya tanaman kesambi juga dapat tumbuh baik. Di Jawa, tanaman kesambi digunakan sebagai tanaman pengisi (sekat bakar) dalam hutan tamanan jati.

Kayu kesambi mempunyai struktur padat, rapat, kusut sangat keras dan lebih berat dari kayu besi. Karena itu apabila dapat mencapai umur yang lebih matang, kayunya berubah warna dari warna merah muda menjadi warna kelabu dan tidak berurat. Oleh karena itu dahulu lebih banyak digunakan sebagai bahan pembuatan jangkar untuk perahu kecil. Bahkan di Kabupaten Bulukumba, kayu kesambi merupakan bahan dasar untuk membuat perahu. Kesambi sebagai sumber kayu bakar potensial.

Secara garis besar, kultur (budi daya) lak dibagi dalam 6 tahapan pekerjaan. Tahap pertama adalah pemangkasan. Maksudnya dari pemangkasan tanaman inang untuk memberbanyak jumlah cabang-cabang yang dapat ditulari, dan menyediakan trubusan muda untuk tempat larva insekta lak.

Tahapan kedua adalah persiapan. Pada tahap ini dipersiapkan tanaman inang untuk ditulari lak. Berbagai jenis pekerjaan pada persiapan ini, di antaranya membersihkan ranting-ranting kecil pada pokok-pokok cabang dan ranting yang sakit atau mati. Semua tumbuhan liar yang mengganggu tumbuhan inang juga dibuang .

Setelah itu lak cabang yang telah masak untuk lak bibit dari hasil unduhan diseleksi. Yang bisa digunakan untuk lak bibit adalah lak cabang yang sehat, tidak mengandung predator pengrusak dan tidak mengandung parasit. Usai tahap ini barulah lak bibit ditularkan ke tanaman kesambi.

Supaya penularan mendapatkan hasil maksimum, maka hanya cabang dan trubusan yang sehat dan panjang saja yang di tulari. Maksimum berumur satu tahun. Penularan dilakukan pada saat pengunduhan, tujuannya supaya tidak terlalu banyak insekta lak terbuang.

Tahap berikutnya adalah penjagaan dan pemeliharaan. Pemeliharaan itu antara lain pembabatan tumbuh-tumbuhan liar dibawah tegakan yang dapat mengganggu kultur lak, terutama yang merambat pada tumbuhan inang, juga alang-alang dan rumput yang mudah terbakar pada musim kemarau.

Sejauh ini, predator dan parasit adalah musuh-musuh lak yang merugikan. Karena itu, untuk memberantasnya, dengan cara melakukan seleksi lak bibit seteliti mungkin. Bila terpaksa menggunakan bibit yang mengandung bibit parasit atua predator, maka harus dibungkus dengan kain kasa agar dapat mencegah keluarnya parasit dan predator dari lak bibit yang ditularkan.

Secara ekonomis, budi daya kutu lak sangat menjanjikan. Selain, belum banyak yang menggeluti bidang ini, harga dari hasil pengolahan kutu lak masih tinggi. Dengan demikian, pemerintah seharusnya lebih mengembangkan sektor yang tentunya dapat menunjang kebutuhan masyarakatnya dengan berbagai pengembangan tekhnologi pengolahan yang di gunakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar