05 Desember, 2010

bioekososiologi orang utan


Bioekososiologi Orangutan
Di Kalimantan, orangutan tersebar hampir di seluruh pulau (Gambar 13), kecuali di daerah yang bergunung tinggi dan dataran rendah yang banyak dihuni manusia. Orangutan terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Di Kalimantan Selatan, orangutan tidak dijumpai. Hal ini diduga karena gangguan habitat dan perburuan oleh manusia yang telah berlangsung lama atau penyebaran orangutan tidak pernah mencapai pegunungan Meratus (Rijksen dan Meijaard, 1999). Di Sebangau sendiri, sebaran orangutan cenderung berada di radius sekitar 5 km dari pinggir sungai (Husson dan Morrogh-Bernard, 2004; Ancrenaz, 2007)
 
Gambar 13. Peta Kalimantan, menampilkan sebaran orang utan (dalam warna hitam) pada tahun 2003. Garis putus-putus adalah batas kawasan lindung. (Wich et al)
Orangutan termasuk frugivora (pemakan buah), walaupun primata ini juga mengkonsumsi daun, liana, kulit kayu, serangga dan kadang-kadang memakan tanah dan vertebrata kecil (Rodman, 1973, MacKinnon, 1974, Rijksen, 1978, Galdikas, 1984, Utami & van Hooff, 1997). Hingga saat ini tercatat lebih dari 1000 spesies tumbuhan, hewan kecil, dan jamur yang menjadi pakan orangutan (Russon et al., in prep).
Oleh karena itu kehidupan orangutan sangat tergantung dari kondisi habitatnya. Ketersediaan pakan di habitatnya sangat diperlukan untuk mendukung keberlangsungan hidupnya. Agar tetap dapat bertahan hidup, orangutan menggantungkan hidupnya pada habitat dengan komposisi pepohonan dan liana yang menyediakan pakan, atau pada musim produktif (buah) yang dapat berlangsung secara terus menerus sepanjang tahun dan tetap berada dalam jarak penjelajahannya (Meijaard, dkk, 2001). Habitat yang memiliki kualitas baik bagi orangutan adalah yang memiliki pepohohan dan liana, yang dapat menyediakan buah-buahan yang menarik dan bergizi sebesar 30 – 50%. Pada hutan rawa, dalam kondisi basah terdapat paling sedikit 40 jenis pohon penghasil pakan, sedangkan dalam kondisi kering sebanyak 60 jenis.
Sifat frugivora, arboreal, masa hidup yang panjang serta jarak kelahiran yang relatif lama (6-9 tahun; Wich dkk, 2004) dan daerah jelajah yang luas, orangutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama pada hutan hujan tropis. Orangutan menjadi “umbrella species” dan berperan penting dalam memencarkan biji-biji dari tumbuhan yang dikonsumsinya (Rijksen dan Meijaard, 1999, Galdikas, 1982, Suhandi, 1988). Dengan peran yang sangat penting ini, maka ketidakhadiran orangutan di hutan hujan tropis dapat mengakibatkan kepunahan suatu jenis tumbuhan yang penyebarannya tergantung oleh primata langka ini.
Apabila suatu areal tidak produktif, yaitu ketersediaan buah (pakan) berkurang, orangutan akan pindah (migrasi) ke daerah lain yang memiliki ketersediaan pakan (buah) yang lebih baik. Meijaard dkk, 2001 menegaskan bahwa hanya beberapa individu orangutan yang betina dan anaknya yang tetap tinggal di suatu areal, walaupun ketersediaan buahnya (pakan) rendah, sedangkan individu lainnya segera pindah mencari areal lainnya. Keadaan ini menunjukkan distribusi orangutan dipengaruhi oleh sebaran habitat yang memiliki ketersediaan pakan, khususnya buah yang tersedia sepanjang tahun.
Aktivitas harian yang dilakukan orangutan dimulai dari meninggalkan sarang tidur pada pagi hari dan diakhiri dengan membuat sarang kembali dan tidur pada sore hari (Galdikas, 1986). Keberadaan pohon sarang juga menjadi kebutuhan yang penting bagi orangutan, di beberapa tempat penelitian diketahui terdapat preferensi pohon sarang pada orangutan (Prasetyo, 2007). Tumbuhan yang ada di Taman Nasional Sebangau tercatat sekitar 10 taksa yang dimanfaatkan orangutan untuk bersarang. Taksa tersebut diantaranya seperti Camnosperma, Shorea, Lithocarpus, Eugenia, Palaquium, Elaeocarpus, Chrysobalanaceae, Nephelium, Diospyros dan Garcinia (Ancrenaz, 2007).
Sepanjang setelah keluar dari sarang tidur, biasanya orangutan melakukan seruan panjang (long call), agar diketahui keberadaannya di lokasi tersebut oleh orangutan lainnya yang berada di sekitarnya. Selain itu, orangutan juga melakukan buang air kecil (kencing) dan air besar. Aktivitas selanjutnya adalah bergerak pindah untuk mencari makanan pada pohon pakan. Variasi musim dan ketersediaan buah mempengaruhi aktivitas orangutan (Mackinnon, 1974).
Penjelajahan adalah pergerakan (bergerak pindah) satwa dalam kurun waktu tertentu dan jarak tertentu. Jelajah harian adalah jarak yang ditempuh orangutan, sejak meninggalkan sarang tidur (pagi) sampai kembali membuat sarang tidur (sore). Daerah jelajah adalah suatu daerah dimana orangutan tertentu pernah dilihat dan bergerak pindah dalam kurun waktu tertentu. Di hutan dataran rendah Ketambe, TN Gn. Leuser, Aceh Tenggara, Sumatra, diketahui jantan dewasa bergerak lebih jauh per harinya (antara 600 – 1000 m) daripada betina dewasa (600 – 700 m). Perbedaan jarak jelajah juga terlihat antara jantan berpipidan jantan tidak berpipi, serta pada saat orangutan berpasangan atau sendirian (soliter). Bila sendirian, jantan berpipi jarak jelajahnya lebih dekat (pendek), rata-rata 628,53 m/ hari dibanding jantan tidak berpipi yang memilki jarak jelajah lebih jauh mencapai 1033,9 m/hari. Sebaliknya, bila sedang berpasangan dengan betina dewasa, yang berpipi lebih jauh jarak jelajahnya (rata-rata 976,8 m/hari) dibandingkan dengan yang tidak berpipi hanya rata-rata 635,43 m/hari. Kondisi ini menunjukkan jarak jelajah harian orangutan jantan dewasa dipengaruhi oleh adanya orangutan betina dan jantan berpipi lebih jauh penjelajahannya untuk mempertahankan betina tetap berada bersamanya (Utami Atmoko, 2000).
Daerah jelajah antar individu orangutan saling tumpang tindih dan dapat melewati beberapa habitat, yaitu dari habitat (hutan) dataran rendah sampai perbukitan (Lelono, 1998). Orangutan memilih daerah jelajahnya berdasar kepentingan terkait produktivitas makanan yang baik dan juga kepentingan reproduksi. Luas daerah jelajah orangutan mencapai 900 – 1000 ha. Sedangkan hasil penelitian di hutan rawa Suaq Balimbing, TN Gn. Leuser, Aceh Selatan, daerah jelajah jantan minimum sekitar 2500 ha (Singleton dan van Schaik, 2001). Daerah jelajah ini dapat mendukung kehidupan sampai beberapa tahun, bahkan menggabungkan daerah jelajah dari dua atau lebih betina siap kawin, sehingga sering terjadi tumpang tindih daerah jelajah jantan dan betina (Sugardjito, 1986; Rodman, 1973; Rijksen , 1978, dan Rodman dan Mitani , 1987).
Penebangan/kebakaran hutan yang terjadi pada habitat orangutan menyebabkan hal yang serius pada perubahan habitat (luas dan kualitasnya) dan pola jelajah sehingga membuat orangutan tergusur dan memaksa orangutan pindah untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Namun bagi kelas “penetap” sering mencoba tetap tinggal atau melarikan diri sebatas daerah tetangganya sehingga menimbulkan dampak “gelombang pengungsi dadakan” dalam populasi orangutan di sekitarnya, dan dampak selanjutnya adalah adanya tekanan terhadap daya dukung habitat yang ada oleh populasi pengungsi tersebut.
Sumber:
Suhud, M, Saleh, C, 2007 (eds). Dampak Perubahan Iklim Terhadap Habitat Orangutan. WWF-Indonesia, Jakarta, Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar