20 Februari, 2010

ANALISIS SOSIAL

ANALISIS SOSIAL

Sebuah Konsep yang Telupakan

Analisis sosial atau yang lebih akrab disapa ansos ini merupakan sebuah proses atau mekanisme yang akan membahas problematika-probelmatika yang terjadi pada sebuah objek analisa dan pada akhirnya akan menghasilkan apa sebenarnya yang menjadi akar permasalahan atas problematika-problematika tersebut. Dari sana, kita dapat menentukan apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk dicarikan solusi yang tepat.

Inilah yang acapkali tidak dilalui oleh para problem solver. Mereka seringkali menghasilkan solusi atas problematika yang hadir bukan berdasarkan hasil analisis mendalam namun hanya bedasarkan dugaan yang argumentasinya lemah atau bahkan hanya berdasarkan pada kemauannya saja. Mungkin permasalahan yang nyata di lapangan akan terselesaikan, namun karena ia tak akan menyentuh sampai ke akarnya maka akan hadir permasalah-permasalah baru atau bahkan permasalahan yang nyata tersebut tidak hilang sama sekali.

Ada sebuah analogi yang tepat untuk menggambarkan bagaimana pentingnya analisis sosial. Ada seorang pasien yang berkonsultasi tentang sakit yang dideritanya kepada seorang dokter. Dokter tersebut lalu melakukan diagnosis. Berdasarkan hasil diagnosis diketahui bahwa ia menderita migrain. Dokter tersebut lalu memberikan sebuah resep berupa obat migrain. Lalu, setelah selang waktu tertentu, sembuhlah pasien tersebut. Namun, apa jadi jadinya jika sang dokter salah melakukan diagnosis dan menyatakan bahwa pasien menderita radang usus. Otomatis, resep yang diberikan adalah obat radang usus. Bukannya membuat pasien tersebut sembuh, malah mungkin akan muncul penyakit-penyakit baru.

Ada beberapa tahapan dalam melakukan analisis sosial. Berikut ini adalah tahapan-tahapannya.

1. Menetapkan segmentasi

Pertama kali yang harus dilakukan adalah menentukan segmentasi atau objek yang akan dianalisis. Jelaslah bahwa segmen yang hendak dianalisis adalah segmen yang dinilai memiliki permasalahan dan hendak dicarikan solusinya. (lingkungan dan masyarakat sekitar hutan)

2. Identifikasi masalah

Sebelum melakukan identifikasi masalah, kita harus mampu mendefinisikan terlebih dahulu apa itu masalah dan kacamata apa yang kita gunakan ketika kita menyebutkan itu adalah sebuah masalah atau bukan. Masalah adalah segala realita yang bertolak belakang dengan idealita. Sedangkan kacamata apa yang kita gunakan akan sangat menentukan apakah sebuah fenomena sosial dapat dianggap sebagai masalah atau bukan karena jika berbeda kacamata mungkin pula akan berbeda hasilnya. Sebagi contoh adalah fenomena sosial masyarakat sekitar hutan lindung. Jika kita menggunakan kacamata RIMBAWAN, jelas bahwa adanya masyarakat sekitar hutan adalah sebuah

Setelah itu, kita melakukan pengamatan terhadap fenomena-fenomena sosial yang nyata pada segmen kita. Kita tentukan apakah fenomena-fenomena tersebut adalah masalah berdasarkan kacamata yang kita pakai. Itulah identifikasi masalah.

3. Menemukan akar permasalahan

Ketika kita sudah mengidentifikasi masalah, carilah akar permasalahan dari setiap permasalahan yang ada. Tahap ini akan berbicara terkait apa sebenarnya yang menjadi pokok yang menyebabkan semua permasalahan itu dapat terjadi. Akar permasalahan inilah yang merupakan penyebab utama kenapa permasalahan-permasalahan itu terjadi.

sebagai contoh kasus ketika masyarakat sekitar hutan sudah mulai masuk hutan dan melakukan pemanfaatan dari hutan tersebut yang tidak sesuai dan mengakibatkan dampak negatif, dan tidak sesuai peraturan dan kebijakan yang berlaku. selain itu pula kita bisa melihat kenapa hutan dan lingkungan yang ada di sekitar masyarakat tersebut bisa tumbuh baik berdampingan dengan masyarakat. disini kini melihat bagaimana masyarakat bisa berdampingan dan memanfaatkan sumberdaya yang ada secara baik.

hutan dan lingkungan rusak – ekonomi masyarakat dibawah rata-rata - masyarakat tidak tahu pentingnya hutan dan lingkungan – masyarakat belum paham peraturan dan kebijakan dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan dan lingkungan dll

hutan dan lingkungan baik – masyarakat paham akan akan pentingnya hutan dan lingkungan – masyarakat paham peraturan dan kebijakan dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan dan lingkungan dll

Perlu diingat dalam menemukan akar permasalahan bahwa kita tidak akan mempermasalahkan solusi yang tidak ada. Sebagai contoh adalah tidak adanya dan bukanlah akar permasalahan dari masyarakat sekitar hutan yang memanfaatkan hutan

4. Analisis kebutuhan

Berasarkan pada akar-akar permasalahan yang ada maka kita perlu melakukan analisis terhadap kebutuhan-kebutuhan apa saja yang menjadi kebutuhan segment. Inilah yang dinamakan sebagai analisis kebutuhan. Sebagai contoh adalah kasus akar permaslahan di atas. Ada sebuah akar permasalahan yaitu masyarakat belum paham pentingnya hutan dan lingkungan secara menyeluruh. Ini berarti masyarakat membutuhkan pemahaman terhadap pentingnya hutan dan lingkungan yang menyeluruh. Inilah analisis kebutuhannya.

5. Menentukan alternatif penyelesaian

Dari kebutuhan-kebutuhan itu, kita diharapkan mampu menurunkannya menjadi solusi-solusi yang merupakan alternatif penyelesaian yang tepat. Ini merupakan tahap dimana kita harus mampu berfikir ekstra untuk menetukan penyelesaian apa yang tepat dari permasalah tersebut. Masih dengan contoh yang sama, dengan kebutuhan yaitu pemahaman terhadap lingkungan yang menyeluruh maka salah satu alternatif penyelesaianya adalah pembinaan rutin dan intensif.

6. Analisis SWOT dan analisis dampak

Analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan) yang dilakukan pada internal diri kita sebagai problem solver digunakan untuk melihat posisi kita apakah kita sanggup untuk menghadirkan solusi-solusi yang telah kita tetapkan sebelumnya atau tidak. Kekuatan internal dan peluang eksternal kita kita jadikan sebagai senjata untuk menghilangkan kelemahan internal dan hambatan eksternal. Sedangkan analisis dampak kita gunakan sebagai kacamata apa dampak yang akan terjadi terhadap segment dan internal kita jika kita menghadirkan solusi-solusi tersebut. Kita akan menentukan apakah solusi tersebut berdampak positif atau negative, berdampak signifikan dan efektif untuk melakukan perbaikan atau tidak. Seperti itulah analisis SWOT dan analisis dampak.

7. Menentukan penyelesaian akhir

Langkah terakhir adalah menentukan penyelesaian akhir yang dinilai mampu untuk kita lakukan sebagai seorang problem solver berdasarkan hasil analisis SWOT dan dampak tadi. mudahnya, kita akan memfilter alternatif penyelesaian mana saja yang dinilai sanggup kita lakukan dan berdampak positif dan signifikan perbaikannya. Sebagai contoh, kita mempunyai alternatif penyelesaian pembinaan rutin dan intensif. Jika kita tidak sanggup melakukannya, maka kita dapat menghapus solusi ini atau menurunkan tarafnya misal dari pembinaan rutin menjadi pembinaan yang sifatnya sesekali saja jika itu dinilai juga memiliki dampak yang positif. Inilah yang akan dibawa dalam tataran lapangan.

Semoga dengan proses ini akan hadir perbaikan yang tidak hanya akan menyelesaikan permasalahan yang berada pada kulitnya saja namun juga pada intinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar