10 Februari, 2010

laporan PPHBM

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Pertimbangan bahwa hak masyarakat sekitar hutan memiliki peranan yang sangat penting dalam pengelolaan hutan yang lestari dan berkesinambungan. Maka, munculah pradigma baru dalam sistem dan strategi yang diterapkan pemerintah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan sosial, ekonomi dan ekologi dari pengelolaan hutan yang dahulu masih bersifat berpusat.
Lahan sempit membuat sulit kehidupan petani di pedesaan di Pulau Jawa. Bagi petani di desa yang berbatasan langsung dengan hutan, masuk hutan dan menggarap lahan di sana merupakan jalan keluar paling masuk akal. Itu pula yang berlangsung di Kabupaten Kuningan. Masuknya petani ke hutan sudah berlangsung puluhan tahun. Dan itu memicu konflik panjang antara masyarakat dengan dua badan pemerintah yang mendapat mandat mengelola hutan. Masyarakat mendapat tekanan hukum dan fisik oleh petugas Perhutani dan Departemen Kehutanan, badan pemerintah itu. Masyarakat ditangkap, diintimidasi, dipenjara, dan diperas.
Dengan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan hutan, khususnya di pulau Jawa. Mendorong sebagaian pihak untuk mengembangkan sistem pengelolaan yang berbasis masyarakat dengan peran serta secara langsung dari masyarakat berupa kerjasama dan kemitraan dengan pihak pengelola.
Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Keragaman masyarakat, kondisi geografis serta melalui proses panjang pengalaman empirik telah mendorong masyarakat membangun cara dan aturan (adat) yang khas khususnya dalam pengelolaan hutan. Hal tersebut juga menunjukkan hubungan yang khas antara masyarakat dan alam lingkungannya baik secara jasmani maupun rohani (Yuyun Indradi, 2009).
Kemiskinan di Sektor Kehutanan Banyak penelitian dan program pemerintah yang dilakukan sehubungan dengan isu kemiskinan tidak menyentuh sektor kehutanan. Studi yang dilakukan CESS (Center for Economic and Social Studies) dan ODI (Overseas Development Institute) mengenai ”Kemiskinan dan Kehutanan di Indonesia” menyoroti dimensi kemiskinan (kronis) masyarakat di dalam dan sekitar hutan.
Demi terciptanya pengembangan sistem dan strategi tersebut, perlu adanya penyampaian berupa pengalaman dan pengetahuan yang kemudian ber-regenerasi terhadap keberlangsungan sistem yang sudah diterapkan. Sehingga kelemahan dan kekuarangan yang masih melekat dapat dengan segera di tangani dan dihilangkan disesuaikan dengan perkembangan jaman dan tekhnologi. Hal ini hendaknya pula mengkaji karakter masyarakat melalui tinjauan yang menyeluruh dan tidak hanya dapat mewakili sebagai sarana untuk pengemabangan kedepannya.
Hal-hal baru dapat muncul jika kita dengan teliti memahami konsepsi yang tersedia dengan pengalaman yang memungkinkan dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan ini. Pemahaman yang mendalam dan kajian secara teoritis dapat terlaksana jika kopetensi yang dimiliki oleh SDM juga memadai. Oleh sebab itu, pendidikan dan pembelajaran harus terus-menerus di adakan guna meningkatkan kulitas SDM yang bersangkutan.
Melalui program Pembelajaran PHBM diharapkan adanya penyampaian pengalaman yang dapat memberikan manfaat secara langsung kepada mahasiswa dan masyarakat dalam peningkatan kopetensi dan pengetahuan. Dengan Pembelajaran PHBM ini, dimungkinkan adanya komunikasi yang lebih baik sehingga terlaksananya ide baru yang membangun cara berfikir mahsiswa, masyarakat dan berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan ini.
Pentingnya program tersebut menjadi dasar bagi Persiapan PC Sylva UNIKU yang berkoordinasi secara langsung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan UNIKU utnuk melaksanakan program ini. Dengan keterlibatan dari berbagai pihak, maka Program Pendidikan PHBM dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Walaupun dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai kekurangan dan kelemahan serta berbagai hambatan yang semestinya dapat kita antisipasi dari pengalaman tersebut.
BACA SELENGKAPNYA LAPORAN KEGIATAN PROGRAM PHBM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar